SLEMAN – Pihak SDN Model Sleman merasa kecolongan atas peristiwa asusila yang dilakukan oleh oknum guru terhadap salah seorang siswanya. Padahal, SDN Model Sleman telah mencanangkan diri sebagai sekolah ramah anak.

Kepala SDN Model Sleman Yulianti Indarsih mengatakan, pihaknya tidak menduga peristiwa asusila itu terjadi di sekolah yang dipimpinnya. Sebab kebijakan perlindungan anak sudah dibuat sedemikian rupa agar anak merasa nyaman dan aman selama menempuh pendidikan di sekolah.

“Kami merasa kecolongan. Kepada orang tua yang menitipkan anaknya kepada kami, saya dan sekolah mohon maaf yang sebesar-besarnya,” jelas Yulianti ditemui di ruang kerjanya, kemarin (21/11).

Dia menjelaskan, pihak sekolah sudah memberikan surat rekomendasi atas perilaku asusila yang dilakukan oleh oknum guru, Agung Dharmawan, tersebut. Surat itu, diberikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sleman, sehari setelah adanya laporan dari orang tua korban.

Dijelaskan, dari laporan yang diterima sekolah, oknum guru tersebut meraba bagian terlarang murid. Kejadian tersebut dilakukan di UKS sekolah. “Kami juga tidak menduga tindakan asusila ini dilakukan oleh guru yang selama ini kami kenal taat beribadah dan santun. Bahkan, masuk dalam kategori guru muda potensial,” jelasnya.

Dia menjelaskan upaya sosialisasi perlindungan anak sudah dilakukan dengan menghadirkan perwakilan dari Komnas Perlindungan Anak. Bahkan, kebijakan perlindungan terhadap anak pun sudah berjalan.

Dicontohkan, kebijakan perlindungan anak sudah diterapkan dalam cara berpakaian anak. Yakni dengan menambahkan pakaian dalam berupa celana dan baju dalam tambahan pada anak perempuan. Selain itu, dalam penganganan fisik anak, siswi perempuan hanya boleh disentuh oleh guru perempuan.

“Sosialisasi dan kebijakan sudah sedemikian rupa, namun tidak menyentuh ke personal,” terangnya.

Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direskrimum Polda DIJ Kompol Retnowati mengatakan, pihaknya masih mendalami laporan terhadap dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru di SDN Model Sleman. Langkah awal yang akan dilakukan, pihaknya melakukan pemanggilan terhadap sejumlah saksi.

“Upaya pemanggilan saksi belum kami lakukan. Saat ini kami masih fokus ke penanganan penganiayaan terhadap JM. Ini karena terbatasnya personel di PPA,” jelasnya. (bhn/ila/ong)