RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Penyidik Polda DIJ kembali menghadirkan saksi kasus penganiayaan yang menimpa JM, 1,5 tahun, balita yang dianiaya oleh majikan sang ibu. Kali ini kakak korban DL,13, datang ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk memberikan keterangan.

Di ruang PPA Polda DIJ, DL diperiksa sekitar satu jam. Dalam keterangannya, DL mengaku pernah melihat penganiayaan oleh majikan sang ibu, Adi Cahyono alias Diduk. Peristiwa itu, terjadi pada 31 Desember tahun lalu saat berada di Klaten, Jawa Tengah.

“Adik diangkat kakinya lalu dilemparkan ke lantai. Tapi, saat jatuh ke lantai tidak nangis,” jelas DL, kemarin (21/11).

Dia menjelaskan, peristiwa itu dilakukan di ruang tamu pada 31 Desember tahun lalu. Saat melakukan penganiyaan tersebut, majikan dalam keadaan mabuk. Itu diketahui dengan keberadaan miras di ruang meja ruang tamu.

Ketika itu, DL tengah berkunjung ke rumah majikan untuk merayakan malam pergantian tahun bersama ibunya. Saat peristiwa itu berlangsung, tidak ada satupun anggota keluarga yang berani mencegah. “Kami semua takut, nggak ada yang berani menolong adik,” terangnya.

Terpisah, Ketua DPC Ikatan Advokasi Indonesia (Ikadin) Jogja Taufiqurrahman menyatakan, sebanyak seratus advokat dikerahkan untuk mendampingi pelapor. Advokat siap mengawal peristiwa tersebut hingga keadilan ditegakkan.

“Kasus ini menjadi perhatian kami karena pelaku sudah kehilangan sisi-sisi kemanusiannya,” jelasnya.

Advokat, jelasnya, secara ikhlas melakukan pendampingan tanpa ada biaya apapun. Sejumlah advokat telah melakukan pendampingan selama pelapor dimintai keterangan. “Sejauh ini keterangan yang diberikan sudah mencukupi. Masih ada bukti visum yang saat ini belum diterima penyidik,” jelasnya.

Sementara itu, suasana tampak sepi di kediaman Sutrisno, ayah Sartini, yang terletak di Kampung Badran RT 05 RW 10 Pucangsawit, Jebres, Solo, Jawa Tengah. Adik kandung Sartini, Yuli Prasetyo Rini, mengatakan sejak tadi pagi keluarganya berangkat untuk mediasi di Polda DIJ dengan pihak terlapor. “Mediasinya sekitar jam 9 pagi,” kata Rini.

Ditambahkan Rini, upaya mediasi tersebut diikuti oleh keluarganya antara lain, Sutrisno (ayah), Surami (ibu), Kenang Widodo (kakak ipar), Sarwanto (adik), dan DL (putri kedua Sartini).

Di tempat lain, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo memastikan akan memberikan pendampingan dan fasilitas hingga kasus tersebut selesai. Hal tersebut disampaikan Rudy kepada Radar Solo (Jawa Pos Group) di rumah dinas Loji Gandrung, Senin siang (21/11).

Rudy mengatakan, pemkot hingga kini terus melakukan pendampingan baik secara langsung maupun tidak langsung. “Keluarga dari sini sudah kami sediakan mobil, ada juga pendamping,” katanya.

Perlakuan khusus juga diberikan pemkot kepada anak Sartini yang masih berusia di bawah tiga tahun. Melalui Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Solo, pemkot memberikan perawatan kepada anak Sartini yang juga menjadi korban. Sang anak sengaja ditempatkan di lokasi khusus agar tidak bersentuhan langsung dengan proses hukum. Hal itu juga untuk menghindari trauma psikologis terhadap anak. (bhn/irw/ila/ong)