SLEMAN – Predator anak masih terus berkeliaran. Kali ini menimpa salah satu anak sekolah dasar yang dicabuli oleh gurunya sendiri. Dalam laporan polisi No: LP/948/XI/2016/DIY/SPKT tertanggal 14 November 2016 yang diteken oleh Kepala Siaga SPKT “B” Kompol Junaidi Sajim, ada salah satu orang tua yang melaporkan tindakan cabul yang dialami oleh anaknya. Terlapor atas nama Agung Dharmanan, salah seorang guru SD Model Sleman.

Dalam laporan itu, pencabulan dilakukan pada bulan Oktober di ruang UKS SD Model. Kejadian bermula ketika sang anak mengeluh sakit dan berada di UKS. Saat itu guru kelasnya datang dan mengoleskan minyak ke pelipis dan kening korban. Kemudian dengan sadar meraba payudara korban sebelah kanan.

Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti mengatakan, setiap ada laporan akan dipilah dan ditindaklanjuti. “Karena korban masih di bawah umur akan dilimpahkan ke Unit PPA agar penanganannya lebih intens dan ramah terhadap anak. Psikologis korban menjadi fokus kami,” ujarnya kemarin malam (18/11).

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Sleman Arif Haryono membenarkan adanya laporan dugaan tindak pelecehan seksual yang dilakukan Agung Dharmawan. “Saya menerima laporan dari kepala sekolah bersangkutan. Sebagai atasan, kami telah menindaklanjuti hal itu,” ungkapnya tadi malam.

Demi kenyamanan proses belajar-mengajar siswa, Disdikpora memutuskan memindahtugaskan Agung ke UPT Pelayanan Pendidikan Kecamatan Berbah. “Supaya suasana sekolah kembali kondusif,” lanjut Arif.

Terkait nasib Agung, Arif tak mau berandai-andai lebih jauh. Dia hanya menegaskan bahwa setiap pegawai negeri sipil (PNS) seharusnya memahami segala dampak dan risiko jika bertindak di luar kewajaran. Apalagi melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS. “Jelas ada punishment-nya,” tandasnya.

Langkah yang ditempuh Disdikpora, lanjut Arif, sebatas menyangkut kepegawaian. Penindakan terhadap Agung sebatas profesi yang melekat pada pria kelahiran Sleman, 13 Januari 1981 itu sebagai seorang guru, atas dugaan pelanggaran yang disangkakan kepadanya. Mengenai kemungkinan adanya tindak pemecatan, Arif belum bersedia komentar. “Saya belum tahu. Saat ini proses (penindakan profesi) masih berjalan,” ucapnya.

Di sisi lain, Arif mengaku belum mengetahui ikhwal kasus tersebut telah dilaporkan ke kepolisian. Menurutnya, penindakan secara hukum berbeda ranah dengan tindak lanjut dinas menyangkut status PNS yang melekat kepada seorang guru. “Kalau itu dianggap melangagr aturan hukum, ya, monggo saja diproses,” katanya.

Sementara itu, Radar Jogja belum bisa mendapatkan konfirmasi dari Agung Dharmawan. Koran ini telah berusaha menghubungi telepon seluler yang bersangkutan namun tidak mendapat respons, meski terdengar nada sambung. Pesan singkat SMS yang dikirimkan juga tak berbalas. (yog/ila/mg1)