Ada sejak Era Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono I

SLEMAN – Hujan tidak menghalangi antusiasme warga menyaksikan Saparan Bekakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman, kemarin (18/11). Ribuan warga terlihat memadati rute pawai sepanjang Lapangan Ambarketawang hingga Gunung Gamping.

Prosesi tahunan ini berjalan lancar hingga penyembelihan sepasang pengantin bekakak.

Kerabat Keraton Jogjakarta Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo turut hadir dalam prosesi ini. Dia mengapresiasi upaya warga melestarikan upacara adat ini. Menurutnya, nilai-nilai kearifan tradisi perlu dijaga secara konsisten.

“Upacara adat ini tergolong paling tua di Jogjakarta. Sudah ada sejak era sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono I. Upacara ini memiliki nilai historis yang sangat dalam tentang keraton,” ujar pria yang baru saja menjabat sebagai Kepala PMI DIJ ini.

Secara gamblang, Gusti Prabu, sapaannya, menceritakan sejarah upacara ini. Berawal dari era Sri Sultan Hamengku Buwuono I yang menetap di Pesanggrahan Ambarketawang. Kala itu, keraton sedang dalam masa pembangunan pada 1755.

Sepasang abdi dalem Ki Wirosuto dan istrinya memutuskan untuk tetap tinggal. Kedua abdi dalem ini memilih untuk merawat pesanggrahan dan hewan ternak di Ambarketawang. Saat tengah menambang, sepasang abdi dalem ini meninggal tertimpa runtuhan batuan gamping.

“Atas dawuh ndalem dan menghindari musibah, akhirnya dibuatkan sebuah ritual adat. Setiap tahunnya saat bulan Sapar (penanggalan Jawa) mengorbankan sepasang bekakak. Hal ini untuk mengganti korban manusia yang jatuh ketika menambang gamping,” jelasnya.

Upacara adat ini melibatkan seluruh warga Desa Ambarketawang. Total ada 13 dusun di Desa Ambarketawang yang terlibat dalam upacara ini. Setiap dusun mengirimkan minimal satu bregada sebagai partisipan upacara adat.

Selain kesenian tradisi dan kerakyatan, dalam rombongan pawai ini juga menampilkan ogoh-ogoh. Selanjutnya rangkaian bregada ini mengawal sepasang bekakak menuju Gunung Gamping.

“Untuk tahun ini yang terlibat ada lebih dari 30 partisipan. Mulai dari bregada hingga komunitas kesenian. Selain dari Ambarketawang, beberapa juga berasal dari luar desa,” ujar Ketua Panitia Bambang Cahyono. (dwi/ila/mg1)