Pertunjukan Lumba-Lumba di PMPS Ditentang

JOGJA – Bagi masyarakat Jogja dan wisatawan yang datang ke kota gudeg di bulan ini, momennya pas. Sebab, hari ini (18/11) Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2016 resmi dibuka.

Mengawali kegiatan Sekaten, Pemkot Jogja dan Pengageng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Wilujengan Pasang Pathok Sekaten di Pendopo Kecamatan Kraton, kemarin (17/11).

Sekaten merupakan acara tradisi yang sudah diadakan sejak abad ke-16. Sekaten diadakan setahun sekali setiap Rabiul Awal atau Maulud di Alun-Alun Utara, Jogja.

Ketua PMPS 2016 Lucy Irawati mengatakan, tradisi tumpengan dilakukan secara simbolis. Sebab, stan-stan pengisi kegiatan sudah didirikan di Alun-Alun Utara. “Wilujengan ini sebagai tanda dimulainya kegiatan PMPS serta sebagai ucapan syukur karena dapat menggelar kegiatan ini kembali,” ujarnya kemarin.

Plt Wali Kota Jogja Sulistiyo mengatakan, kegiatan ini sudah ditata sedemikian baiknya, dengan tidak menghilangkan makna spiritual dan budaya yang ada didalamnya. “Secara umum persiapan PMPS 2016 ini sudah mencapai 95 persen. Sekaten merupakan tradisi yang harus dilestarikan,” ungkapnya.

Sementara itu, belum dimulai pelaksanaan PMPS 2016 sudah menuai kritikan. Kali ini yang melakukan kritik adalah Animal Friend Jogja (AFJ), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (Yayasan RASI) yang meminta pertunjukan lumba-lumba di PMPS 2016 dihentikan.

“Surat sudah kami layangkan sejak 15 November lalu, surat susulan segera dikirimkan ke Ketua PMPS,” ujar pengurus AFJ Anggelina Pane, kemarin (17/11).

Surat permintaan penghentian pertunjukan lumba-lumba di PMPS 2016 itu dilayangkan kepada Wali Kota Jogja, Kepala Disperindagkoptan Kota Jogja, Dinas Pendidikan Kota Jogja, hingga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ.

Tapi, lanjut dia, hingga saat ini belum ada respons dari surat tersebut. Karena itu, pihaknya akan kembali melayangkan surat yang sama. Termasuk menanyakan tindak lanjut surat yang dikirimkan sebelumnya.

Alasan tiga organisasi itu menentang pertunjukan lumba-lumba di PMPS, jelas Angelina, karena dalam pertunjukkan tersebut mengeksploitasi lumba-lumba. Dalam praktiknya lumba-lumba dilatih dengan sistem reward and punishment. Pelatih akan membiarkan lumba-lumba kelaparan ketika tak mengikuti instruksi. “Itu merupakan bentuk eksploitasi pada lumba-lumba,” kecamnya.

Selain itu dengan adanya pertunjukkan seperti di PMPS, Anggelina mengatakan, maka lumba-lumba terancam punah lantaran penangkapan ilegal terjadi terus menerus. Dari data yang dimilikinya, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang masih mengizinkan pertunjukkan lumba-lumba.

“Apa Indonesia tidak malu jadi negara yang tidak pro konservasi. Ini melanggar pedoman etika kesejahteraan satwa,” tegasnya.

Selain di PMPS, dalam waktu dekat juga ada pertunjukan lumba-lumba di Jalan Magelang. Terkait hal itu, pihaknya juga sudah melayangkan surat serupa ke Gubernur DIJ. Juga akan menggalang aksi penolakan, jika hingga 20 November 2016 belum ada surat balasan.

Ketua PMPS 2016 Lucy Irawati mengatakan, tidak bisa melarang pengajuan stan hiburan pertunjukan lumba-lumba. Terlebih tidak ada larangan penyelenggaraan pertunjukan lumba-lumba. Pihaknya mengacu pada Undang-undang (UU) Nomor 18/2009 dan keputusan Dirjen SDA dan Ekosistem nomor SK.262/KSDAE-SET/2015.

“Kami mengacu pada aturan yang berlaku, UU serta keputusan Dirjen SDA dan Ekosistem, izin dikeluarkan berdasar aturan itu,” jelasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Plt Wali Kota Jogja Sulistiyo yang mengaku semua persyaratan perizinan pertunjukan lumba-lumba sudah sesuai. Termasuk izin dari kementerian dan pihak terkait. Menanggapi pihak-pihak yang mengajukan protes, Sulistiyo mengatakan, nantinya akan dilakukan evaluasi setelah penutupan PMPS 2016. “Setelah selesai nanti akan dievaluasi,” tandasnya. (cr1/pra/mg1)