RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Pembantu rumah tangga yang mengalami penganiayaan Sartini, 36, beserta anaknya JM, 1,5 tahun, kembali mendatangi Polda DIJ, kemarin (17/11). Kedatangan mereka untuk memenuhi penyidikan dan pengumpulan bukti.

Setelah menjalani pemeriksaan selama hampir satu jam di ruang Unit Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Direskrimum Polda DIJ, Sartini dan JM dibawa ke RS Bhayangkara Jogjakarta. Di sana, JM menjalani visum menyeluruh guna mengetahui penyebab bekas luka di beberapa bagian tubuh.

Kanit PPA Direskrimum Polda DIJ Kompol Retnowati mengatakan, JM harus menjalani visum menyeluruh. Ini untuk mengetahui bekas luka yang diduga akibat penganiayaan. “Di RSUP Dr Sardjito hanya ambil foto rontgen untuk mengetahui kondisi bagian dalam perut JM. Belum menyeluruh,” kata Retnowati ditemui di ruang kerjanya kemarin.

BACA: Bocah 1,5 Tahun Dimasukkan Mesin Cuci, Gigi Dicabut Pakai Tang
Dia menjelaskan, terdapat sejumlah bekas luka yang tampak secara visual seperti di bagian perut, jari kaki, kemaluan, dan hidung. Pemeriksaan ini memastikan penyebab dari bekas luka-luka tersebut.

Usai menjalani visum, jelasnya, Sartini direncanakan mengisi berita acara perkara dan dilanjutkan pemanggilan saksi. Sedangkan terlapor, hingga kemarin belum mendapat pemanggilan dari Polda DIJ. Pihak kepolisian, beralasan tengah menjalankan proses pengumpulan bukti dan sejumlah saksi.

“Karena tidak ada saksi lain yang melihat peristiwa penganiayaan itu. Bila keterangan dan alat bukti sudah kuat pasti segera kami panggil,” jelasnya.

BACA: Balita 1,5 Tahun Disiksa, Belum Ada Tersangka
Setelah menjalani visum di RS Bhayangkara, Sartini beserta JM tidak kembali ke Polda DIJ. Karena JM harus mendapatkan observasi lanjutan guna mengetahui kondisi kesehatannya. “Belum tahu berapa lama observasinya,” ujar Kasubdit Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda DIJ AKBP Beja.

Observasi, sambungnya, untuk melihat sejauh mana tindak kekerasan berakibat kepadanya. Sebab, berdasarkan keterangan pelapor, kekerasan dilakukan pada bagian vital tubuh JM. “Kami komunikasikam terus dengan dokter sambil mengetahui seperti apa hasilnya,” jelasnya.

Ditemui terpisah Dokter RS Bhayangkara dr Eva Nurdiyantari menyatakan, pemeriksaan berjalan selama setengah jam. Pemeriksaan kondisi tubuh JM dilakukan dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Fisik anak bagus, karena luka di badan itu luka lama,” ungkapnya.

Guna mempertegas pihak dokter juga melakukan rontgen di bagian dada, perut, dan kakinya. Hasil visum segera diserahkan ke polisi. Sejauh ini, sambung Eva, tidak ada indikasi yang mengarah JM harus melakukan opname. Namun, bocah kecil itu harus menjalani rawat jalan.

Sementara itu, usai menjalani pemeriksaan di ruang Unit PPA Polda DIJ, Sartini meminta kepada kepolisian untuk menangkap majikannya, Adi Cahyono alias Diduk yang telah melakukan penganiayaan terhadap dirinya dan JM. Selama sembilan bulan, dia bersama JM mendapatkan perlakuan tidak manusiawi.

“Saat anak saya tumbuh hingga usia 10 bulan perilakunya masih biasa. Namun saat usahanya mulai bangkrut, baru perilaku kasarnya muncul,” ujar warga Pucangsawit, Jebres, Solo, Jawa Tengah itu.

Dia menyebut sejak 2014, sudah sebelas kali berpindah-pindah mengikuti majikan. Mulai dari Solo, Klaten hingga terakhir di Bantul. Selama mengikuti majikan, dia beserta anaknya tidak bisa lari dari rumah. Barulah pada pertengahan Oktober, kesempatan untuk lari terlaksana saat sang majikan keluar.

Setelah lepas dari rumah majikan, dia pun tidak berani tinggal di rumah ibunya di Solo. Sebab setelah dia kabur dari kediaman majikan di Samalo, Jetis, Bantul, majikan sempat mendatangi kediamannya di Solo.

“Ketika itu sekitar pukul 3 pagi majikan datang mencari saya dan anak saya dalam keadaan mabuk. Namun, hanya bertemu ibu saya, karena saya menginap di tempat kerabat yang ada di Klaten,” jelasnya.

Selama pemeriksaan di Polda, Sartini dimintai sejumlah keterangan selama tinggal di tempat majikan. Kepada petugas, Sartini mengaku sering dibentak. Pernah dipukul di bagian mulut hingga pecah. (bhn/ila/ong)