RADARJOGJA.CO.ID-Warga Gunungkidul, DIY terkenal mudah depresi. Ini bukan hanya isapan jempol atau mitos belaka. Angka bunuh diri di kabupaten yang mayoritas gunung kapur tersebut selalu tertinggi dibandingkan daerah lain.

Tahun ini saja, berdasarkan catatan Polres Gunungkidul, angka bunuh diri telah mencapai 31 kasus. Itu baru catatan sampai pertengahan November ini. “Dari percobaan bunuh diri, 28 orang meninggal dunia, sedangkan 3 orang berhasil diselamatkan,” kata Kepala Polres Gunungkidul AKBP Nugrah Trihadi.

Kondisi psikologis warga Gunungkidul pun, lanjut Nugrah, banyak yang galau, depresi, kemudian tidak menemukan jalan keluar memilih untuk mengakhiri hidup. Kepolisian juga menggandeng tokoh agama, tokoh spiritual dan psikiater maupun psikolog,” ujarnya.

Petugas juga terus menjalin komunikasi dengan orang berpotensi melakukan bunuh diri. Dari situ, secara perlahan dilakukan pendekatan dengan tujuan supaya keinginan untuk mengakhiri hidup bisa dinetralkan.

“Jangan sampai terngiang untuk bunuh diri,” tandasnya.

Manajer Divisi Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi Rifka Annisa M. Thontowi menjelaskan, kebutuhan tenaga psikolog di Kabupaten Gunungkidul sudah sangat mendesak. Saat ini, tenaga psikolog baru ada satu orang. Jumlah tersebut tak sesuai dengan tingkat potensi bunuh diri.

“Jika tiap-tiap puskesmas memiliki tenaga psikologi, tentu bisa menekan kasus bunuh diri,” katanya. (gun/eri)