RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIJ masih mengumpulkan barang bukti dan saksi untuk menetapkan status tersangka terhadap pelaku penganiayaan keji yang dilakukan oleh Adi Cahyono alias Diduk. Salah satu alat bukti yang masih ditunggu penyidik yakni hasil visum yang dikeluarkan oleh RSUP Dr Sardjito.

Direskrimum Polda DIJ Kombes Polisi Frans Tjahjono menjelaskan, penyidik sudah menerima laporan adanya penganiayaan pada Selasa malam (15/11). Namun, pihak kepolisian tidak bisa serta merta menahan terlapor berdasarkan laporan tersebut.

BACA: Bocah 1,5 Tahun Dimasukkan Mesin Cuci, Gigi Dicabut Pakai Tang
Pihaknya, secara profesional harus melakukan proses penyidikan untuk mengembangkan laporan hingga bisa menjerat tersangka. “Baru hari ini (kemarin) proses penyidikan dilakukan. Kami belum melakukan pemanggilan terhadap terlapor karena masih harus mengumpulkan bukti-bukti. Termasuk membuat surat permohonan visum et repertum kepada pihak rumah sakit,” jelas Frans kemarin (16/11).

Perwira menengah dengan tiga melati di pundak ini menjelaskan, pemanggilan terlapor masih harus menuntaskan proses pengumpulan bukti pendukung. Termasuk penyesuaian terhadap kondisi korban dan terlapor. “Kalau sudah cukup bukti pasti akan segera kami panggil,” tegasnya.

Menurut Frans, penetapan status hukum tersangka terhadap seseorang harus dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur. Termasuk menjunjung asas praduga tak bersalah. Meski secara bukti visual didapati adanya luka di tubuh korban, namun aparat masih memunggu keterangan ahli dari rumah sakit untuk menjelaskan penyebab timbulnya luka.

“Meski secara awam mengetahui luka itu, tapi penjelasannya harus dari ahli. Semoga pihak rumah sakit segera mengeluarkan laporan, karena pada malam itu juga korban sudah kami bawa ke RSUP Dr Sardjito untuk divisum,” jelas alumnus SMAN 6 Jogja ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang asisten rumah tangga asal Pucangsawit, Jebres, Solo, Sartini, 36, melaporkan penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya, Adi Cahyono, terhadap anaknya yang masih berusia 1,5 tahun. Sejak periode Februari-September 2016, bocah berinisial JM itu mendapatkan berbagai perlakuan kekerasan.

Selama kurun waktu sembilan bulan, JM disiksa dengan cara dimasukkan ke dalam mesin cuci, kulkas, dan lemari. Bahkan balita itu disiram air panas di bagian kemaluan. Peristiwa itu dilakukan saat majikan tinggal di Klaten, Jawa Tengah dan Samalo, Jetis, Bantul.

Beruntung, Sartini bisa lepas dari sekapan majikan pada pertengahan Oktober lalu. Diliputi rasa takut, Sartini ditemani kerabatnya melaporkan peristiwa yang dialami anaknya ke Polda DIJ. (bhn/ila/ong)