TERKUAKNYA penganiayaan terhadap JM,balita berusia 1,5 tahun asal RT 05 RW 10, Kelurahan Pucangsawit, Jebres, Solo ini membawa keprihatinan tersendiri. Penelusuran kehidupan JM dan ibunya yang dilakukan Radar Solo (Jawa Pos Group) mengungkapkan bahwa saat persalinan Sartini, ibu JM, dibiayai oleh sang majikan, Adi Cahyono alias Diduk. Bahkan majikannya itu berjanji untuk mengadopsi JM.

Ditemui di kediamannya, Sarwanto, 30, adik Sartini, mengatakan, kakak dan ponakannya sempat berada di rumah selama tiga minggu lamanya sebelum memberanikan diri melaporkan kasus tersebut ke Polda DIJ.

BACA: Bocah 1,5 Tahun Dimasukkan Mesin Cuci, Gigi Dicabut Pakai Tang
“Kemarin didesak untuk melaporkan kasus ini, terus Selasa (15/11) siang diantar adik dari almarhum suaminya ke Jogja,” ungkapnya, kemarin (16/11).

Saat pertama kali kabur, lanjut Sarwanto, sang majikan sempat mencari sang kakak ke rumahnya. “Majikannya memang sering datang ke sini, jadi hafal. Waktu kabur, pak Adi, istri, dan anak laki-lakinya datang ke sini mencari kakak saya. Karena mereka berpikir kakak saya pulang, jarak satu minggu setelah majikannya datang, baru kakak saya dan anaknya pulang,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kondisi JM saat pulang sangat mengenaskan. Banyak luka di sekujur tubuhnya, bahkan sering sulit tidur dan menangis setiap malam karena menahan sakit. Tidak hanya anaknya. Sartini juga diduga mendapat penyiksaan dari majikannya itu.

“Bibirnya ada bekas luka, sepertinya bekas pukulan, tapi dia tidak mau mengaku. Ngakunya sakit sariawan. Anaknya juga sering nangis, namun tidak normal. Karena kalau nangis sering dibarengi sesak napas,” ungkapnya.

BACA: Balita 1,5 Tahun Disiksa, Belum Ada Tersangka
Sarwanto menuturkan, Sartini terpaksa bekerja membanting tulang menghidupi anak pertama dan keduanya setelah suaminya meninggal dunia 2011 silam. “Suaminya meninggal karena sakit, setelah itu dia terpaksa bekerja menghidupi dan membiayai sekolah anak-anaknya. Pertama dia bekerja di pabrik kain di Sorogenen,” terangnya.

Setelah setahun bekerja di pabrik garmen, Sartini lantas keluar dari lokasi tersebut dan memiliki niatan untuk bekerja di daerah Kalimantan Selatan. Dia bekerja di sebuah rumah makan sebagai pembantu koki selama 2 tahun.

“Berangkat merantau, kemudian Lebaran 2014 kakak saya pulang kembali ke Solo. Baru dua hari di rumah pamit katanya mau kerja jadi pembantu di Jogja,” urai Sarwanto.

Dari pengakuan Sartini, dia mau bekerja di rumah pelaku setelah dikenalkan oleh temannya saat masih bekerja di Kalimantan. Dari situlah, awal mula perkenalan Sartini dengan pelaku. Dia mengatakan selain gajinya lumayan, juga lebih dekat bila ingin pulang ke rumah.

Ketika disinggung terkait asal muasal JM, mengingat suaminya meninggal 5 tahun yang lalu, Sarwanto mengungkapkan, balita tersebut merupakan hasil hubungan gelap antara kakaknya dengan teman laki-lakinya.

“Setahu saya Mbak Sartini waktu itu sedang dekat dengan empat laki-laki, dua orang Solo, satu orang Klaten, dan satu orang sekitar tempat dia bekerja. Tapi siapa bapaknya saya juga tidak tahu pasti, yang tahu cuma Mbak Sartini dan Pak Adi, mereka menutup-nutupi sampai sekarang,” beber Sarwanto.

Pihak keluarga juga baru tahu bahwa Sartini hamil setelah usia kandungannya berumur 8 bulan. Waktu itu ayah mereka yang datang ke rumah majikan Sartini. Tujuannya untuk melihat kondisi Sartini, itu setelah dihubungi oleh majikannya.

“Saat itu, bapak yang berangkat. Setelah pulang bapak cerita kalau di sana ada perjanian tertulis antara keluarga kami dengan Pak Adi,” ungkapnya.

Dalam perjanjian tersebut, lanjut Sarwanto, majikan sang kakak siap membiayai persalinan Sartini dengan syarat bila anaknya lahir menjadi menjadi milik majikannya.

“Intinya mau diadopsi, ya pihak keluarga mau-mau saja karena kami sendiri tidak memiliki biaya untuk melahirkan. Kami juga menyambut baik perjanjian itu, bahkan yang memberikan nama keponakan saya itu ya majikannya tersebut,” tuturnya.

Karena kebaikan Pak Aji tersebut, pihak keluarga masih belum percaya bahwa laki-laki tersebut tega melakukan penganiayaan tersebut. “Ya kalau sekilas memang orangnya terlihat sangar, karena tubuhya penuh dengan tato, tapi sama keluarga kami baik. Bahkan kalau main ke rumah sering ninggali uang saku untuk anak-anak Mbak Sartini,” ungkapnya.

Hingga saat ini pihak keluarga mengaku masih bingung untuk biaya perawatan pemulihan baik fisik maupun psikis anak tersebut. “Kami belum tahu gimana ke depannya, ini saja ibunya baru berani lapor setelah kami desak. Selama ini perawatannya masih pakai obat-obatan dari warung saja,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Pucangsawit Widyo mengungkapkan, belum mendapat laporan terkait kasus yang menimpa salah satu warganya. “Belum ada laporan masuk baik dari keluarga maupun pengurus setempat, pasti akan kami tindaklanjuti kalau ada laporan masuk yang menimpa warga kami,” ujarnya. (atn/ila/ong)