RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Kekerasan terhadap anak seorang asisten rumah tangga terjadi di Samalo, Patalan, Jetis, Bantul. Penyiksaan yang tergolong sadis ini dilakukan oleh majikan sang ibu. Korban yang masih berusia 1,5 tahun berinisial JM mengalami luka di bagian kepala, perut, kaki, dan kemaluannya. Kemarin malam (15/11), ibu korban, Sartini, 36, memberanikan diri melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Polda DIJ.

Yang membuat miris perlakuan tak manusiawi terhadap bocah asal Pucangsawit, Jebres, Solo, Jawa Tengah ini dilakukan berulang-ulang. Kepada petugas, Sartini menyebut penyiksaan terjadi pada kurun waktu Februari hingga September 2016. Penyiksaan dilakukan di rumah majikan saat masih berada di Klaten, Jawa Tengah. Kemudian berlanjut ketika dia dan anaknya dibawa sang majikan pindah ke Samalo, Patalan, Jetis, Bantul.

BACA; Balita 1,5 Tahun Disiksa, Belum Ada Tersangka
Sang majikan merupakan warga Pengging, Boyolali, Jawa Tengah, bernama Adi Cahyono alias Diduk, yang memiliki toko alat-alat teknik persawahan. “Alasan penyiksaan itu karena anak saya dianggap sebagai pembawa sial yang menyebabkan usaha majikan bangkrut,” ujarnya ketika melapor ditemani oleh kerabat dan tetangganya dari Solo, Jawa Tengah.

Sartini menuturkan, kekerasan terhadap anaknya dilakukan dengan berbagai cara. Dengan tangan kosong dan berbagai alat. JM pernah dimasukkan ke dalam mesin cuci, kulkas, dan lemari selama satu jam. Majikannya juga mematahkan gigi anaknya dengan tang.

Pernah suatu kali majikannya mengamuk, JM disiram dengan kopi panas di bagian kemaluan. Bahkan, dua jari kaki kanan diikat dengan karet gelang selama satu malam hingga tulangnya bergeser. Juga dipaksa makan sambal pedas.

Kekerasan lain yang dilakukan majikannya yakni mengikat kedua tangan JM lalu dipancangkan di pintu sambil hidung ditendang. Pernah juga ditaruh di atas lemari tinggi selama berjam-jam.

Sartini mengaku tak berani melawan sang majikan karena diancam akan dibunuh.

“Penyiksaan dilakukan di depan mata saya. Istri majikan tak berdaya mencegah penyiksaan tersebut,” jelasnya.

Akibat kekerasan yang dilakukan oleh majikan, tulang hidung anaknya patah sehingga pernafasannya terganggu. Selain itu tampak terlihat luka bakar di perut serta dua jari kaki kanannya menyatu akibat diikat karet gelang. Akibat penyiksaan itu, anaknya juga mengalami trauma. Ini ditunjukkan dengan ketakutan setiap melihat kulkas atau lemari.

Dia menyebut, selama sembilan bulan bekerja, baik di Klaten dan Bantul, juga diperlakukan tidak manusiawi. Selama bekerja, dia tidak diperbolehkan ke luar rumah. Selama tiga bulan terakhir, gaji Sartini juga tidak dibayarkan.

“Saya bingung, selain bekerja tidak dibayar. Melihat anak saya dianiaya, saya tambah bingung harus berbuat apa,” katanya.

Dia menuturkan, bisa keluar dari rumah majikan sekitar pertengahan Oktober. Saat itu, dia dan anaknya berhasil melarikan diri ketika majikannya pergi.

“Saat majikan saya pergi, saya kabur dari pintu belakang. Lalu saya jalan kaki ingin pulang ke Solo. Di jalan, saya dibantu oleh anak-anak jalanan. Sempat diberi makan dan diantar sampai ke Solo,” ujarnya.

Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Anny Pudjiastuti mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan korban. Selanjutnya proses hukum akan dilanjutkan dengan penyidikan dan memanggil saksi-saksi serta terlapor untuk dimintai keterangan.

“Setelah laporan saksi-saksi, terlapor akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Secepatnya akan diproses,” katanya.

Bila terbukti bersalah, pelaku bisa dijerat UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Serta melanggar UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan pasal 351 KUHP. Pelaku bisa dikenai hukuman pidana penjara selama lima tahun. (bhn/ila/ong)