Banyak Diisi Pemain Muda, Mayoritas Pemain Layak Dipertahankan

Langkah PSIM Jogja untuk bisa melanjutkan perjalanan ke delapan besar ISC-B terhenti. Namun, acungan jempol dan apresiasi tinggi pantas disematkan kepada skuad muda Laskar Mataram ini. Bagaimana perjalanan tim ini selanjutnya ?

RIZAL SETYO NUGROHO, Jogja

Bak cerita Cinderella, tim PSIM Jogja telah berakhir. Setelah melakoni tiga laga awal babak 16 besar dengan dua kemenangan dan satu kekalahan, tiket delapan besar seperti tinggal menunggu waktu. Puncak performa Sunni Hizbullah dkk saat itu sedang tinggi-tingginya. Namun gagalnya laga lawan Perssu dan ditahan imbang Persiraja di kandang menjadikan perempatfinal semakin jauh dan terjal. Langkah itu benar-benar terhenti di Stadion Wijayakusuma, Cilacap, Sabtu (12/11) pukul 22.00 waktu setempat.

Peluit panjang yang ditiup wasit Ridwan Pahala asal Bandung di akhir babak kedua, menyadarkan mimpi anak-anak Jogja. Satu gol Rendy Saputra di menit 65 yang bersarang tepat di pojok gawang Ony Kurniawan, memaksa Laskar Mataram pulang dengan kekalahan. Tepat pukul 24.00 bus yang membawa 18 pemain, pelatih dan ofisial tim, bertolak dari Hotel Tiga Intan, di tepi pantai Cilacap ke Jogjakarta.

“Inilah akhir perjalanan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, sebisa yang kami lakukan. Tapi memang bukan rezeki kami kali ini,” ujar pelatih PSIM Jogja Erwan Hendarwanto saat jumpa pers setelah pertandingan.

Di hadapan sekitar 10.000 pasang mata yang memadati stadion, kedua tim menyajikan pertandingan sengit di babak pertama. Pentolan suporter PSCS Cilacap, Jonero, mengatakan, selama ISC-B, pertandingan kemarin malam yang paling ramai dan seru. Menurutnya, antusiasme suporter Jogja luar biasa.

“Ini yang paling banyak penontonnya selama PSCS main di kandang. Stadion sampai tidak muat. Malah penonton PSIM yang lebih banyak dari Lanus, sebutan suporter PSCS Cilacap,” ujarnya kepada Radar Jogja.

Di awal babak pertama, tuan rumah memasang tiga penyerang sekaligus, Rendy Saputra, Taryono dan Wusono Budi. PSIM menahan dengan lima bek. Tiga fullback Nurdiansyah, Sunni Hizbullah dan Edo Pratama. Sementara wing back kiri-kanan ditempati Ayub Antoh dan Riskal Susanto. Keduanya sangat mobile membantu pertahanan dan penyerangan.

Kokohnya lini belakang dan kepiawaian Ony di bawah mistar yang berkali-kali mementahkan tembakan lawan, membuat gawang PSIM perawan sampai akhir babak pertama. Bahkan saat PSCS bermain dengan empat penyerang! Sepuluh menit sebelum babak pertama bubar, gelandang M. Choiron ditarik dan penyerang Arief Yulianto dimainkan pelatih PSCS Gatot Barnowo.

Di babak kedua, formasi PSIM dari 5-4-1 diubah ke skema yang biasa mereka mainkan 4-2-3-1. Mereka siap menyerang. Bek Nurdiansyah digantikan gelandang Dimas Priambodo, Krisna Adi keluar dan masuk Rangga Muslim. Gelombang serangan PSIM mulai mengalir dan mengancam gawang PSCS. Namun gol Rendy dari jarak jauh yang tidak mampu diantisipasi Ony, karena posisinya yang terlebih dulu kelewat maju ke depan membuyarkan konsentrasi pemain PSIM. Terbukti, sampai pertandingan bubar tidak ada gol tambahan.

Setelah pertandingan, Erwan mengaku siap menerima keputusan manajemen, seandainya tidak diperpanjang kontrak untuk membesut Laskar Mataram. Apalagi dengan segala daya dan upaya yang dimilikinya, pria asal Magelang itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk memoles para pemain yang terhitung minim pengalaman dalam mengarungi kompetisi sepak bola profesional.

“Pemain-pemain kami semuanya hampir pemain muda, rata-rata usia 22-23 tahun. Hanya tiga pemain yang di atas 30 tahun dan hampir seluruhnya baru pertama kali ini mencicipi sepak bola profesional,” ungkapnya.

Meskipun demikian, menurutnya 80-90 persen materi skuad PSIM saat ini masih bisa dipertahankan untuk musim depan. Selama enam bulan kompetisi, hal itu bisa menjadi pengalaman berharga. Sehingga pada kompetisi selanjutnya akan tampil lebih baik lagi.

Ketua umum yang juga manajer PSIM Agung Damar Kusumandaru mengatakan, setelah tidak lolos delapan besar, tim akan dibubarkan. Namun ia mengamini banyak pemain yang mengisi skuad saat ini yang patut dipertahankan.

“Nanti kami meminta kepada pelatih untuk membuat rekomendasi yang bisa kami jadikan pegangan untuk persiapan kompetisi tahun depan,” katanya.

Agung menyebutkan, sejak awal manajemen tidak menargetkan yang muluk-muluk bagi tim. Namun ternyata motivasi dan semangat pemain muda PSIM sangat tinggi. “Target kami awalnya hanya berpartisipasi saja. Ternyata kami punya peluang lolos 16 besar dan kami ambil peluang itu. Termasuk di babak 16 besar kami juga hampir saja lolos. Tapi bagaimanapun juga, hasil ini pencapaian yang luar biasa yang bisa kami raih,” tandasnya.

Saat adzan subuh berkumandang di langit Kota Jogja, Minggu (13/11), bus yang membawa tim memasuki halaman wisma PSIM. Semua pemain setelah turun dari bus langsung menuju wisma. Wajah-wajah lelah dan kecewa belum mampu mereka sembunyikan. (riz/laz/din/ong)