Ilustrasi/Radar Jogja Online
RADARJOGJA.CO.ID, BANTUL – Aktivitas penambangan pasir liar seolah menjadi hal “biasa” di wilayah DIJ. Di Kulonprogo dan Sleman penambangan ilegal dengan alat berat menjadi pemandangan sehari-hari. Pemerintah daerah seakan tak punya taji untuk menertibkan tindakan ilegal itu.

Kepala Desa Parangtritis Topo mengaku kaget dengan aktivitas penambangan pasir di wilayahnya. Sebab, pemerintah desa belum pernah mendapat tembusan. Begitu pula permohonan izin terkait aktivitas penambangan pasir. Meskipun lokasi penambangan tidak jauh dari rumah dukuh Mancingan. “Wong rumahnya sekitar situ,” sesalnya.

Topo mengakui sebagian tanah di lokasi penambangan ada yang milik pribadi warga. Namun, sebagian besar merupakan Sultan Ground. Kendati begitu, Topo menegaskan segala bentuk aktivitas penambangan tetap harus mengantongi perizinan dari Pemprov DIJ.

Dari penulusuran, pasir pantai ini disuplai untuk proyek pembangunan Pasar Angkruksari. Pasir-pasir ini dimanfaatkan sebagai bahan material pemasangan paving blok.

Totok Wisnu, Project Maneger PT Citra Prasasti Konsorindo, perusahaan pemenang pembangunan Pasar Angkruksari tak menampik adanya suplai pasir pantai. Totok mengaku tidak tahu-menahu asal-usul pasir tersebut. “Urusan rekanan. Kami tahunya membayar dan selesai,” dalihnya.

Kasat Pol PP Bantul Hermawan Setiaji berjanji bakal menindak praktik penambangan ilegal ini. Aparat penegak perda ini bakal menggandeng pemprov. Mengingat, persoalan tersebut menjadi kewenangan Pemprov DIJ. Termasuk dalam penindakannya jika terjadi pelanggaran. (zam/yog/mar)