RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Paradigma ini perlu diubah dan diluruskan. Anggapan sebagian orang masih menganggap pendidikan seksualitas bagi remaja sebagai sesuatu yang tabu. Padahal, pendidikan tersebut sangatlah penting. Selain untuk menangkal kejahatan seksual, hal itu penting guna mencegah seseorang dari pengaruh negatif pornografi dan pornoaksi.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menuturkan, minimnya pengetahuan seks justru akan merangsang anak-anak dan remaja mencari informasi sendiri. Tanpa pendampingan orang dewasa, dikhawatirkan bakal terjadi implementasi yang keliru terhadap semua hal berbau seksologi.

Menurut Muslimatun, para orang tua idealnya menjadi yang pertama menanamkan pendidikan seks sejak dini bagi anak-anak mereka. Selain sebagai upaya protektif, juga menghilangkan kecanggungan anak saat bertanya. Sedangkan peran sekolah (guru) sebatas sebagai upaya lanjutan.

Jika pendidikan seks dijauhi, bahkan tak pernah dibahas dalam ruang keluarga, bukan tidak mungkin akan memperpanjang deretan kasus penyimpangan atau kejahatan seks oleh anak-anak dan remaja.

“Wujud penasaran anak terhadap seks sangat berbahaya. Apalagi, perkembangan teknologi sangat memungkinkan siapa saja mengakses hal-hal berbagu seks atau pornografi,” ucapnya di sela pendampingan pendidikan seks di MTsN Pakem beberapa waktu lalu.

Agar informasi seksualitas bisa diterima akal sehat anak-anak dan remaja, Muslimatun mengajak para orang tua lebih terbuka tentang hal yang selama ini dianggap pamali. “Jangan menghindari dan bilang pendidikan seks tabu. Ini adalah langkah preventif pembekalan ilmu kepada anak. Tujuannya agar anak tahu, paham dan selektif dalam sikap dan perilaku sehari-hari,” tegasnya.

Di bagian lain, Muslimatun mengimbau warga dewasa senantiasa menciptakan lingkungan yang kondusif, diawali dari keluarga. Sebab, anak-anak memiliki sifat imitasi yang cepat. Apa yang dilihat tak jarang akan ditiru.

Dicontohkan, masih banyaknya bangunan rumah tak ideal bagi anak. Dimana hanya ada satu ruangan tanpa sekat. Orang tua tidur berbaur dengan anak. Dikhawatirkan, anak-anak tak sengaja melihat orang tua mereka saat berhubungan intim. Tanpa pendidikan seks yang kuat, bukan tidak mungkin anak-anak akan meniru. Hal itu tentu akan berdampak serius. Karena itu, Muslimatun berharap setiap anak disediakan kamar pribadi. Apapun bentuk dan ukurannya.

Agar mereka memiliki batas privasi menikmati dunianya. Selain itu guna membatasi pola pikir anak terhadap konsumsi orang dewasa. “Hunian juga harus mendukung agar benar-benar ramah anak. Pastinya terus lakukan pendampingan, jawab dengan lugas ketika anak bertanya. Atau gunakan metode yang tepat, agar pesan bisa tetap tersampaikan,” tuturnya. (dwi/yog/ong)