Sebuah truk sedang mengangkut pasir di Gumuk Pasir Parangtritis. (Foto: Zaki Mubarok/Radar Jogja Online)
RADARJOGJA.CO.ID, BANTUL – Aktivitas penambangan pasir liar seolah menjadi hal “biasa” di wilayah DIJ. Di Kulonprogo dan Sleman penambangan ilegal dengan alat berat menjadi pemandangan sehari-hari. Pemerintah daerah seakan tak punya taji untuk menertibkan tindakan ilegal itu.

Ironisnya, virus tambang liar mulai menular ke Bantul. Pasir pesisir selatan menjadi sasaran. Persisnya di Padukuhan Mancingan, Parangtritis, Kretek. Sama halnya dengan Sleman, aktivitas penambangan liar ini sudah berlangsung lama. Tapi hampir tak tersentuh oleh penegak hukum di Bumi Projotamansari.

Anehnya kok didiamkan,” sesal salah seorang warga Parangtritis yang enggan dikorankan identitasnya, Minggu (13/11).

Menurut sumber tersebut, aktivitas penambangan pasir liar Pantai Parangtritis berlangsung hampir setiap hari. Sejak empat bulan lalu. “Kecuali hari libur nasional. Sehari-hari ada dua truk yang rutin lalu-lalang mengangkut pasir. Setiap truk sedikitnya mengangkut dua rit sehari. “Dikirim ke mana kurang tahu,” lanjutnya.

Dikatakan, lokasi penambangan ini berada di balik permukiman warga. Jaraknya juga cukup jauh dari Jalan Parangtritis. Sehingga aktivitas penambangan tidak terlihat dari jalan utama di objek destinasi andalan Bantul ini. Pintu keluar masuk truk pengangkut pasir juga hanya memanfaatkan gang sempit. Informasinya, gang ini dulunya merupakan rumah salah satu warga setempat. Tanpa sebab pasti rumah ini dibongkar lalu dijadikan akses jalan truk menuju lokasi penambangan.

“Entah sengaja dibongkar untuk jalan masuk atau bagaimana juga kurang tahu,” beber sumber tersebut.

Dari pantauan, Minggu (13/11) memang tidak ada aktivitas penambangan. Hanya ada satu truk tampak stand by di bawah tebing pasir. Sementara di pintu keluar-masuk tampak satu truk berhenti lantaran terjebak pasir. (zam/yog/mar)