Ilustrasi/Radar Jogja Online
RADARJOGJA.CO.ID, BANTUL– Anggota Komisi B DPRD Bantul Suradal berharap kejelasan kabar rencana hibah bendung dari pusat ke daerah segera terealisasi. Alasannya, perawatan dan perbaikan bangunan pencegah banjir itu bakal lebih mudah jika kewenangannya berada di tangan pemerintah daerah.

“Selama ini seperti dipingpong. Menunggu langkah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) juga lama,” keluhnya, Minggu (13/11).

Karena itu Suradal mendesak seluruh komponen yang terlibat dalam realisasi dana hibah bendung benar-benar serius menyikapi hal tersebut. Terlebih, cuaca ekstrem belakangan ini berpotensi banjir di beberapa wilayah di Bantul. Khususnya di kawasan yang dilalui sungai berhulu puncak Gunung Merapi.

Kasi Operasi Jaringan Irigasi Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul Yitno membenarkan, musim penghujan membawa sejumlah dampak. Di antaranya, tingginya volume air di seluruh saluran. Baik primer maupun sekunder. “Karena posisi Bantul berada di hilir,” jelasnya.

Dengan letak geografis seperti ini, meski tak diguyur hujan lebat, tak jarang debit air seluruh saluran di wilayah selatan Bantul tinggi. Asal Kota Jogja dan Sleman diguyur hujan, warga Bantul harus ikut waspada terhadap imbasnya.

Yitno menyebut, ada 79 bendung di wilayah Bantul untuk antisipasi banjir. Dari jumlah itu, 13 di antaranya merupakan bendung gerak.

Belasan bendung masing-masing memiliki pintu untuk mengatur aliran air. Nah, bendung-bendung inilah yang menjadi perhatian khusus Dinas SDA. Apalagi, aliran air dari utara kerap membawa tumpukan sampah. “Kalau tidak dipantau sampah-sampah ini bisa menyumbat bendung. Akibatnya, pintu air jebol,” ujarnya.

Menurut Yitno, ada dua bendung yang rutin menjadi langganan tumpukan sampah. Yakni, Klegen dan Mejing. Menurutnya, salah satu pintu bendung ini pernah jebol meski sudah dibuka lebar. Satu bendung lagi mengalami kerusakan serius. Yakni, Bendung Karang yang teletak di Dinitirto, Kretek. Bendung ini jebol sekitar Oktober lalu akibat tergerusnya pondasi. Sebagian tangulnya juga longsor akibat derasnya arus air.

Di sisi lain, perbaikan pintu bendung membutuhkan waktu lama. “Karena kewenangannya berada di tangan BBWSO,” bebernya.

Kerusakan pintu bendung dikhawatirkan bakal merugikan petani. Karena aliran air menjadi sulit dikontrol. (zam/yog/mar)