SLEMAN – Kirab Pusata Ki Ageng Wonolelo. Prosesi budaya ini tak sebatas menjadi momentum nguri-uri warisan leluhur. Saat ini, kirab pusaka tradisi warga Desa Widodomartani, Ngemplak telah menjadi agenda wisata yang mampu menyedot banyak pengunjung. Karena itulah Pemkab Sleman terus mendorong upaya pelestarian budaya yang digelar sejak 49 tahun lalu ini.

“Ini adat turun-temurun. Kemasan yang ditampilkan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Meski begitu beberapa pakem tetap dipertahankan sebagai karakter dusun,” ujar Ketua Panitia Sukamto kemarin (11/11).

Salah satu tradisi yang terus dipertahankan adalah sebar apem. Penganan khas Jawa ini dimaknai sebagai lambing kemakmuran masyarakat desa. Selain itu sebagai wujud permohonan ampun kepada Sang Pencipta.

Kali ini panitia menyiapkan apem dengan berat total 1,5 ton. Gunungan apem diarak dari Pondok Wonolelo menuju pemakaman desa. “Apem disebar dari atas menara di timur makam,” jelasnya. Selain apem, gunungan dilengkapi ingkung (daging ayam utuh) dan hasil bumi (sayuran dan buah).

Apem memiliki nilai sejarah terkait perjalanan Ki Ageng Wonolelo. Makanan tradisional ini merupakan oleh-oleh dari pendiri Padukuhan Wonolelo itu sepulang haji.

Beberapa pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo turut diarak. Di antaranya, kitab suci Alquran, baju gondil Ontrokusumo, kopiah, tombak, dan potongan mustaka masjid. Arak-arakan melibatkan seluruh warga Dusun Wonolelo.

“Ki Ageng Wonolelo adalah cucu Brawijaya dari kerajaan Majapahit. Dulu kawasan ini merupakan hutan, hingga akhirnya dibuka dan menjadi kawasan pemukiman warga,” jelasnya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun sangat apresiatif dengan warga Widodomartani yang mampu mempertahankan tradisi budaya Ki Ageng Wonolelo selama ini. Menjaga warisan leluhur dengan baik. “Tradisi semacam ini memang wajib dijaga dan dilestarikan,” tuturnya.

Lebih dari itu, Muslimatun berharap, polesan acara dikemas semenarik mungkin untuk mendongkrak lebih banyak kunjungan wisatawan.

“Sangat menarik karena yang terlibat dari usia muda hingga sesepuhnya. Bukti bahwa pelestarian sudah berjalan dengan baik. Ditambah adanya pasar malam disepanjang ruas jalan dusun. Mampu menarik minat warga luar dusun,” papar Muslimatun saat pembukaan acara di halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo.(dwi/yog/mg2)