PENANGANAN makam Petinggen yang longsor di perbatasan Petinggen, Karangwaru Tegalrejo, Jogja, dan Blunyahgede, Sinduadi, Mlati, Sleman akhirnya dikeroyok bersama. Masyarakat setempat yang akan mengerjakan secara swadaya dengan bantuan material dari pemerintah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarta mengatakan, dinas terkait dari Pemprov DIJ, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman sudah membahas persoalan penanganan makam Petinggen. Hasilnya, dalam waktu dekat segera memperbaiki talud yang ambrol.

“Dikerjakan sendiri oleh masyarakat dengan bantuan material dari BPBD DIJ,” jelas Agus, kemarin (11/11).

Agus menjelaskan, meski dikerjakan sendiri oleh masyarakat dan material seperti semen serta pasir dari BPBD DIJ, Pemkot Jogja tetap membantu dengan menyiapkan sejumlah personel. Sedangkan Pemkab Sleman yang membuat desain talud yang akan dikerjakan. “Intinya, nanti semua akan bekerja sama,” ujarnya.

Mantan Camat Umbulharjo itu menambahkan, penanganan makam Petinggen tersebut akan difinalisasi dalam pertemuan di BPBD DIJ Senin (14/11) nanti. Meski begitu, sejak kemarin personel BPBD Kota Jogja mulai membersihkan bekas longsoran yang terjadi Jumat (4/11) lalu. “Kami sudah mulai kerja bakti membersihkan longsoran dulu,” jelasnya.

Selain membersihkan longsoran, BPBD Kota Jogja dan Dinas Kesehatan Kota Jogja juga melakukan penyemprotan disinfektan di bekas longsoran makam. Meski secara administratif masuk wilayah Sleman, Dinkes Kota Jogja tetap melakukan penyemprotan disinfektan karena ada permintaan dari warga.

“Warga Petinggen mengajukan ke kelurahan yang diteruskan ke BPBD, akhirnya kami turun bersama dinkes,” ungkapnya.

Sekretaris Dinkes Kota Jogja Agus Sudrajat mengatakan, dari hasil laporan surveillance setempat memang diwaspadai adanya penyebaran penyakit dari jenazah yang terbawa longsor. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya melakukan penyemprotan disinfektan. “Sangat mungkin ada bakteri di situ, makanya kami lakukan penyemprotan,” jelasnya.

Dijelaskan, bakteri yang muncul kemungkinan dibawa oleh lalat yang beterbangan dari lokasi longsoran makam dan menimbulkan penyakit. Seperti penyakit pencernaan dan kulit. “Lebih baik pencegahan sebelum ada sesuatu,” ungkapnya. (pra/ila/mg1)