Longsor, 45 KK Terancaman Terisolasi

MUNGKID – Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Magelang, Jawa Tengah dan sekitarnya mengakibatkan tanah longsor hingga merusak beberapa infrastruktur. Salah satunya, ruas jalan di perbatasan Magelang-Purworejo, tepatnya di Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

Jalan provinsi ini mengalami retak dengan panjang sekitar 20 meter. Keretakan bermula dari jalan yang posisinya di atas jurang yang longsor. Kondisi ini mengakibatkan arus lalu lintas dari dua daerah tersebut tersendat. Warga terpaksa membuka satu jalur saja dengan sistem buka tutup.

“Longsor ini terjadi kemungkinan karena saluran irigasi tidak berfungsi maksimal. Bahu jalan dan jurang kini sudah tidak memiliki jarak,” kata salah satu warga sekitar Agus Itek, kemarin (11/11).

Dijelaskan, tanah longsor terjadi bermula dari hujan deras yang mengguyur wilayah perbatasan pada Rabu (9/11) lalu. Air mengalir di bahu jalan, sehingga menggerus dinding jurang. Gerusan semakin membesar dan mengakibatkan tanah longsor.

“Selain longsor, ruas jalan juga mengalami retak memanjang. Kondisi ini berbahaya,” jelasnya.

Di lokasi terlihat ruas jalan retak dengan lebar kurang dari satu centimeter dan memanjang sekitar 20 meter. Sementara, di bahu jalan, retakan juga terlihat memanjang dengan lebar sekitar 5 centimeter. Agar retakan tanah tidak semakin melebar, oleh warga dipasang tong di tengah sebagai penanda.

Saat ini warga bergantian mengatur arus lalu lintas agar pengendara tetap bisa melaju. Hal ini penting mengingat kondisi jalan yang menanjak. “Untuk mempermudah pengaturan arus lalu lintas, warga membutuhkan stick lamp. Semoga segera ada yang mengusahakan,” kata warga lainnya Isnanto.

Kasi Jalan Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Jateng Wilayah Magelang Joko Winangun memastikan, saluran irigasi menjadi penyebab jalan longsor. Imbas dari longsoran bukit di atasnya, sehingga air saluran tertimbun tanah. Karena volume air sangat besar, maka terus mengalir ke jalan. “Begitu penyebabnya,” katanya.

Sebagai solusi sementara, di lokasi longsor akan dibangun bronjong. Bronjong dibangun untuk menahan bahu jalan agar tidak kembali longsor. Namun, dia belum bisa menyampaikan berapa total anggaran yang dibutuhkan membangun bronjong tersebut. “Baru kami hitung,” jelasnya.

Sementara itu, longsor juga membuat 45 kepala keluarga (KK) di Dusun Pakel, Desa Mayungsari, Kecamatan Bener, Purworejo terancam terisolasi. Jalan utama dari pusat desa berupa rabat beton rawan longsor susulan. Itu setelah sebelumnya bronjong pengaman ambrol sepanjang 75 meter dengan kedalaman sekitar 25 meter.

Jika tidak segera dilakukan pengamanan, ancaman kehilangan jalan cukup besar, mengingat hujan masih terus mengguyur. Bersamaan dengan longsornya jalan tersebut, akses utama dari Dusun Krajan 2 berupa jembatan juga jebol. Satu jalan yang bisa dilalui hanya melalui wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

“Ancaman memang cukup tinggi, harapan kami pengamanan jalan itu didahulukan. Karena kalau sampai ada longsor susulan, keadaannya bertambah buruk,” ungkap Kepala Desa Mayungsari Hari Listyadi, kemarin (11/11).

Adapun jembatan penghubung Dusun Krajan 2 dan Pakel yang hilang terbawa material tanah, rencananya digeser dari posisi semula. Ini dilakukan karena tidak memungkinkan dibangun di lokasi yang lama.

“Jembatan perlu digeser agak ke bawah. Memang menjadi lebih panjang. Tapi kami tidak memiliki pilihan lain,” ungkapnya.

Terkait warga yang sempat mengungsi, Hari mengatakan, bahwa mereka telah pulang. Namun apabila hujan turun mereka tak berani bermalam di rumah sendiri. “Warga memilih tinggal di tempat saudara atau musala yang lebih aman dibanding tinggal di rumah kalau hujan turun,” tandasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Boedi Hardjono mengatakan, Mayungsari memang menjadi wilayah yang paling parah akibat longsor pada Rabu (9/11).

Rencana menurunkan alat berat dari Mayungsari kemarin (11/11) terpaksa ditunda. Karena situasi di lapangan tidak memungkinkan. “Jika memungkinkan akan dilakukan kembali hari ini (12/11). Kami kesulitan membersihkan karena terhalang kayu-kayu berukuran besar,” kata Boedi.

Pihaknya meminta bantuan masyarakat untuk menyingkirkan kayu dan membersihkan material longsor yang menutupi. “Untuk akses jalan sudah terbuka dan bisa dilewati walaupun baru cukup untuk kendaraan bermotor,” jelas Boedi. (ady/udi/ila/mg1)