Pedagang sayur di Pasar Glaeng, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon menunggu pembeli, Jumat (11/11). Harga cabai di sejumlah pasar tradisional kini menyentuh harga Rp 60 ribu per kilogram. (Hendri Utomo/Radar Jogja Online)
RADARJOGJA.CO.ID, KULONPROGO – Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Kulonprogo mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Tingginya harga cabai ini akibat menipisnnya stok karena pengaruh musim penghujan.

Kondisi itu dikeluhkan para pedagang. Di antaranya dirasakan para pedagang di Pasar Glaeng, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Jumat (11/11). “Kami mengambil dari petani Karangwuni atau Bugel. Kalau kurang cari dari Muntilan, Magelang, Jawa Tengah,” kata Titin Fatimah salah seorang pedagang.

Dijelaskan, kenaikan harga sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Sebelumnya, harga cabai rawit berkisar Rp 30 ribu – Rp 40 ribu per kilogram. Cabai merah naik dari Rp25 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Begitu juga cabai hijau naik dari Rp 15 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. “Saya tidak tahu pasti penyebab apa, namun pasokan dari produsen (petani) memang sedikit, stok menipis,” jelasnya.

Harga yang tinggi dan stok yang terbatas membuat pasar lesu. Daya beli juga menurun. Selain itu, banyak cabai yang terpaksa harus disimpan, meski risikonya kering atau membusuk. Kondisi itu karena konsumen berusaha hemat dengan hanya membeli satu hingga dua ons. “Sekarang saya hanya bisa jual dua sampai tiga kilogram cabai per hari. Kondisi itu berbeda jauh dibanding sebelumnya, bisa menjual 10 kilogram hingga 20 kilogram per hari,” lanjutnya.

Salah satu pembeli Farida, 40, warga Sindutan mengungkapkan, cabai merupakan kebutuhan yang cukup pokok baginya. Dengan harga cabai yang tinggi dirinya mengaku harus mengurangi jumlah pembelian. “Makan kalau tidak pakai sambel itu rasanya kurang lengkap. Bagi saya tidak begitu bermasalah sebatas barangnya ada. Tetapi belinya juga sedikit saja, cukup buat sambel saja,” jelasnya. (tom/din/mar)