SLEMAN – Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyesalkan aksi kekerasan yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah Al Kautsar Mlati. Apalagi kejadian yang menimpa JAT, 8, siswa kelas 2 terjadi sampai dua kali. Pertama pada Kamis (20/10) dan terulang kembali Senin (31/10).

Muslimatun menegaskan, tak ada toleransi terhadap setiap aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Siapapun pelakunya. Guru, karyawan sekolah, maupun sesama siswa. “Ini membutuhkan penanganan dengan pendekatan khusus,” tuturnya kemarin (10/11).

Dikatakan, setiap tindak kekerasan tak lepas adanya sebab akibat. Diakui, masa anak-anak sarat dengan kenakalan. Namun, jika sampai menimbulkan kekerasan fisik, hal itu dinilai tidak wajar. “Tidak mungkin anak-anak bertindak jika tak ada yang mencontohkan,” katanya.

Menurutnya, latar belakang, pola didik orang tua, hingga lingkungan tempat tinggal menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi perilaku anak-anak.

Apapun yang dilihat anak, bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, masa anak-anak sangat rentan karena mereka belum bisa mengendalikan emosi. Beragam tindakan bisa terlampiaskan. Mulai perkataan hingga tindakan fisik.

Karena itu Muslimatun meminta pihak-pihak yang bersangkutan melakukan tindakan khusus kepada pelaku kekerasan terhadap JAT. “Jangan dimarahi atau dihukum dengan kekerasan. Beri dia pemahaman, jangan sampai trauma karena hukuman, lalu dendam. Itu yang justru menyebabkan anak kerap mengulang kesalahan yang sama,” jelas ibu yang dua dari tiga puteranya berprofesi dokter.

Muslimatun menegaskan, hukuman tak selamanya bisa menimbulkan efek jera bagi anak.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sleman Arif Haryono mengimbau seluruh pelaksana pendidikan di sekolah senantiasa menciptakan suasana aman dan nyaman bagi para siswa. Adanya tindak kekerasan di sekolah bukan saja akan memperburuk citra lembaga yang bersangkutan. Tapi juga dunia pendidikan secara umum. “Pendidikan di sekolah seharusnya memperhatikan sisi humanis dan kemanusiaan. Budaya bullying atau kekerasan sudah seharusnya dikikis di tingkat sekolah,” tegasnya.

Arif juga menekankan pentingnya pemahaman peraturan sekolah. Menurutnya, aksi kekerasan terjadi sebagai ampak minimnya implementasi peraturan belum berjalan baik. Siswa hanya memahami tapi belum melakoni dengan baik.

Sebagaimana diketahui, JAT dilaporkan mengalami cidera di bagian perut dan kemaluannya akibat ditendang oleh dua siswa kelas 4. Bahkan, atas kejadian tersebut JAT harus dirawat intensif di rumah sakit. Orang tua korban telah melaporkan persoalan tersebut ke pihak sekolah.

Kendati demikian, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar Sholikah Mukminah menyangkal adanya aksi kekerasan yang menimpa JAT. Dia berdalih, peristiwa tersebut terjadi tanpa ada unsur kesengajaan.

Sholikah menyebut, kejadian pada (20/10) terjadi saat jam istirahat. Ketika itu, JAT dan siswa kelas 2 lainnya bermain bersama dengan siswa kelas 4. Nah, saat itu perut JAT terkena kaki siswa lain. “Nggak ada yang namanya (JAT) ditarik oleh kakak kelas lalu dikeroyok dan dianiaya. Mereka itu sedang bermain bersama-sama, istilahnya gojeg anak-anak. Ketika sedang asyik bermain, JAT tertendang di bagian perut,” ungkapnya kemarin.

Setelah peristiwa itu, pihak sekolah mendapatkan laporan dari orang tua. JAT mengeluh sakit saat buang air kecil. Air kencing JAT juga dilaporkan mengeluarkan darah. Orang tua JAT lantas memeriksakan ke RSA UGM. Saat pemeriksaan, pihak sekolah pun melakukan pendampingan. Namun, sampai dengan saat ini, pihak sekolah tidak diberi kejelasan ikhwal penyebab kencing darah yang dialami JAT.

“Sebenarnya kami ingin mengetahui hasil visum, tapi pihak RSA tidak memberikan. Orang tua JAT pun tidak memberitahu kami,” ucapnya.

Setelah peristiwa (20/10), JAT masuk seperti biasanya. Wali kelas, sudah mengingatkan JAT untuk berhati-hati saat bermain. Namun, kejadian tak diduga terulang kembali, Senin (31/10). Saat sedang bermain dengan temannya JAT lagi-lagi tertendang di bagian kemaluan. “Yang tertendang dan menendang sama-sama nangis saat itu,” ungkap Sholikah.

Setelah kejadian itu, lanjut Sholikah, JAT kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya. Di sela pelajaran, JAT berasa ingin buang air kecil. Saat itulah JAT mengeluh tidak air kencingnya tak bisa keluar. “Kami segera menghubungi orang tua JAT untuk membawanya ke UGD Panti Rapih,” jelasnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak medis memutuskan JAT harus menjalani opersasi berupa sirkumsisi atau sunat.

Sholikah mengatakan, dari keterangan dokter ada dugaan terjadi pengendapan darah di ujung penutup kemaluan JAT yang sudah lama. “Kalau itu hasil luka tendangan hari ini, pasti darahnya segar. Tapi itu sudah membusuk,” ucap Solikhah menirukan ucapan dokter yang mengoperasi JAT.

Dia menyebut, pihak sekolah sudah memenuhi permintaan orang tua JAT untuk menanggung seluruh biaya pemondokan di rumah sakit selama hampir seminggu.

Selain itu, pihak sekolah juga menyangupi permitaan mediasi pelapor pada Senin (7/11) dengan menghadirkan pihak kepolisian bersama orang tua siswa yang melakukan penendangan. Namun, upaya itu kandas karena orang tua JAT justru tidak hadir.

Sementara itu, Pengawas Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Sleman Sri Wahyuni mengaku memperoleh informasi dari sebagian siswa yang melihat peristiwa tersebut.

Menurutnya, tidak ada perkelahian antarsiswa. Karena itu, dia menilai kejadian yang menimpa JAT tak bisa diklaim sebagai sebuah tindak kekerasan. Apalagi terjadi tanpa terencana. “Mereka ini saling canda, guling-guling terus tidak sengaja salah seorang teman tertendang,” bebernya. (dwi/bhn/yog/mg1)