RADARJOGJA.CO.ID – Tentu kalian sudah sering melihat pesawat kecil tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh tanpa awak. Yap! Ialah drone. Dahulu mungkin orang mengenal drone digunakan oleh militer untuk memata-matai musuh di daerah konflik. Sekarang, drone lebih familiar untuk untuk mengambil gambar atau video dari ketinggian dengan menjamurnya trend selfie.

Meskipun telah familiar digunakan untuk berbagai kegiatan, penerbangan drone tidak boleh asal. Berdasarkan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) terdapat klasifikasi area udara yang boleh dan tidak boleh dimanfaatkan masyarakat untuk penerbangan drone misalnya kawasan sekitar bandar udara.

Pengoperasian drone di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak, artinya tidak semua orang bisa mengoperasikan drone.

Hampir diseluruh daerah di Indonesia, drone mulai menjamur untuk mengabadikan berbagai moment. Di Jogjakarta, terdapat jasa pengambilan gambar menggunakan drone (multirotor) yakni Drone Jogjakarta Indonesia.

Dimulai sejak Juli 2014, Drone Jogjakarta Indonesia atau yang sering disebut Dronesia berawal hanya lewat hobi. Dronesia sudah melayani berbagai service terkait mengambilan gambar atau video lewat drone, salah satunya mengabadikan moment saat DBL Jogja Series Agustus lalu.

“Sangat menyenangkan ketika dapat menghasilkan sesuatu berdasarkan apa yang kita sukai. ” ujar Putra Nagara sebagai salah satu penggagas dronesia.

Sampai saat ini Dronesia tidak hanya berfokus dalam jasa foto dan video udara saja. Telah mengabadikan moment hingga beberapa negara tetangga, beragam inovasi sudah dikembangkan Dronesia salah satunya adalah streaming live event di channel youtube untuk video. Selain itu Dronesia juga memiliki produk foto panorama horisontal dan vertical yang bisa dicetak di media ukuran 50 cm x 200 cm dengan kualitas resolusi yang tinggi.

Sudah berpengalaman, Drone Jogjakarta Indonesia dinaungi oleh FASI atau Federasi Aero Sport Indonesia yang bermarkas di Pangkalan TNI AU dan mendapat binaan langsung dari TNI AU. Mengingat Jogja merupakan kota yang lalu lintas udaranya padat.

Untuk di daerah sekitar Malioboro, Drone Jogjakarta Indonesia menerbangkan drone multirotor tidak boleh lebih dari ketinggian 50 meter. Sementara itu, di daerah Monjali dan sekitar Prambanan, tidak boleh menerbangkan drone multirotor lebih dari ketinggian 100 meter. Karena daerah tersebut merupatan titik awal take off dan landing pesawat.

Karena itu, penggunaan drone harus berhati-hati. Selain kerugian materi, drone yang menabrak pesawat bisa mengakibatkan kecelakaan fatal dan dapat hilangnya nyawa penumpang maupun penduduk di bawahnya. (nay/ong)