KULONPROGO – Memanfaatkan momen peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional tingkat Kabupaten Kulonprogo 2016, Penjabat Bupati Kulonprogo Budi Antono dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto melakukan penanaman pohon mangrove di Dusun Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon, kemarin (9/11).

Ketua Penyelenggara Bambang Tri Budi Harsono mengungkapkan, kegiatan ini untuk memantik kesadaran masyarakat agar gemar menanam, memelihara, dan merawat pohon. Harapannya, masyarakat peduli untuk menanam, tidak hanya menebang pohon.

“Masyarakat harus sadar pentingnya membangun ekosistem hutan dan menjaga kerusakan lingkungan. Terlebih Mangrove sangat berguna sebagai hutan konservasi, produksi dan ekonomi,” ungkap Bambang.

Budi Antono menyampaikan terima kasih kepada kelompok tani mangrove yang sudah mengelola hutan konservasi mangrove dengan baik, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. “Kita harus membudayakan gerakan menanam pohon, karena ini bukan hanya program pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama demi masa depan generasi bangsa,” katanya.

Menurutnya, pohon mangrove memiliki banyak fungsi dan manfaat, antara lain, mencegah intrusi air laut atau perembesan air laut ke tanah daratan. Intrusi laut dapat menyebabkan air tanah menjadi payau, sehingga tidak baik untuk dikonsumsi. “Hutan mangrove bisa mengendapkan lumpur, akar-akar pohonnya mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan,” ujarnya.

Siti Hediati Soeharto mengamini, manfaat hutan konservasi mangrove sangat besar, sehingga perlu dijaga kelestariannya. Pengelola kawasan hutan mangrove di Pasir Mendhit ini perlu diapresiasi.

“Salut untuk pengelolaan hutan mangrove di sini. Selain sudah ikut melestarikan bumi dan membangun ekosistem kawasan pesisir pantai dari ancaman abrasi, tsunami, dan kerusakan lingkungan lainnya, ternyata juga bermanfaat secara ekonomi,” ucap Titik Soeharto ini.

Ketua Pelestari Hutan Mangrove dan Pesisir Wanatirta Warso Suwito menjelaskan, pengelolaan hutan mangrove sudah berjalan sekitar tujuh tahun terakhir. Manfaat yang dirasakan sudah cukup banyak, di antaranya, hutan mangrove seluas tujuh hektare ini mampu mencegah banjir yang sudah terjadi sejak tahun 2012.

“Hutan mangrove sedikit banyak juga sudah mampu mengangkat ekonomi kelompok pengelola dan masyarakat sekitar dan kini banyak dikunjungi wisatawan. Meskipun masih terkendala masalah biaya untuk pengembangan konservasi, dan sampai saat ini biaya yang dikeluarkan masih swadaya atau patungan tapi kami tetap bersemangat,” jelasnya.

Warso berharap, pemerintah bisa membantu pembangunan gedung tempat belajar di seputar Hutan Konservasi Mangrove, karena selama ini banyak mahasiswa dan pelajar yang berkunjung ke tempat ini untuk melakukan penelitian. “Selain itu kami juga butuh sarana atau alat pengelola sampah,” harapnya. (tom/laz/mg2)