Selalu ada warna-warni dalam hidup veteran pejuang perang kemerdekaan republik ini. Bahkan, tak jarang dari mereka yang kini masih harus berjuang demi tetap “hidup”. Salah satunya adalah Sukijan. Veteran asal Gunungkidul ini harus berjuang meraih kemerdekaan dari himpitan ekonomi.

GUNAWAN, Gunungkidul
SUASANA perkampungan Kajar II Rt 18, Karangtengah, Wonosari kemarin (9/11) pagi diselimuti mendung tebal. Dari kejauhan tampak gubuk reot berdinding bambu di tengah ladang. Gubug beralaskan tanah inilah “istana” milik Sukijan. Kakek 82 tahun itu tinggal bersama lima anggota keluaga.

Dia adalah veteran pejuang kemerdekaan yang hingga kini masih hidup dalam kemiskinan. Meski usianya renta, suara Sukijan masih cukup lantang. Semangat hidup Sukijan seolah menutupi kehidupannya yang serba seadanya.

Terlihat bagaimana antusiasmenya bercerita kisah heroik ketika
mengusir penjajah Inggris. Waktu itu dia bergabung dengan tentara
sukarelawan di Kepulauan Riau. Selama tiga tahun. “Saya masih ingat betul dahulu, naik kapal perang selama lima hari enam malam untuk mencapai Riau. Selama tiga tahun kami berperang di sana,” katanya.

Usai kemerdekaan, Sukijan lantas bergabung dengan kesatuan Sukarelawan Banpir Diponegoro I. Ketika itu dia sempat terlibat pengamanan huru-hara saat chaos pada 1965.

Perang melawan penjajah memang sudah lama berakhir. Namun, kenyataan pahit masih harus dijalani kakek renta ini. Dia harus berjuang melawan kehidupan yang keras. Di usianya kini, Sukijan
mesti membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan anggota keluarga.

Bagi Sukijan, uang pensiun sebesar Rp 2 juta per bulan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya agar tetap mengepul setiap hari. Usianya yang telah senja tak menjadi penghalang untuk tetap berkarya demi memperoleh hasil tambahan.

Apalagi, kakek dua cucu ini menanggung utang yang harus dicicilnya setiap bulan. “Saya membuat tomblok atau jingkrak, wadah dari bambu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Sambil bercerita, sesekali Sukijan menghela nafas panjang. Terutama saat ditanya harapannya kepada pemerintah sekarang. Tak ada permintaan apapun. Tetapi, dia berharap pemerintah lebih memperhatikan keadaan para veteran. “Bukan saya sendiri yang mengalami kondisi seperti ini. Teman seperjuangan yang kondisinya lebih parah juga ada. Mohon untuk diperhatikan,” harapnya.

Beruntung bagi Sukijan memiliki istri seperti Romlah. Nenek 66 tahun yang selalu setia menemani Sukijan ini tak pernah menuntut lebih dari kemampuan suaminya. Sangat nrima. Dia sangat bersyukur atas bantuan pemerintah berupa uang pensiun yang diterima Sukijan. “Tapi kalau untuk bayar angsuran utang dan makan bersama anak cucu, uang segitu memang tidak cukup,” tuturnya.

Mengenai kehidupan veteran yang hidup di bawah garis kemiskinan dibenarkan Paula Sri Pancawarna, petugas pengatur hak kesejahteraan urusan cadangan veteran dari perwakilan
Kementerian Pertahanan di Gunungkidul.

Menurutnya, saat ini ada 351 veteran bersama janda dan keluarganya yang tinggal di Bumi Handayani. “Sekitar 20-an veteran masih hidup dalam kondisi kekurangan,” ungkapnya.

Bahkan, diakui Paula, saat ini masih banyak veteran belum terdaftar dan mendapatkan bantuan dari pemerintah. Seharusnya, veteran berhak mendapatkan bantuan sebesar Rp 1,4 juta ditambah dana kehormatan Rp 750 ribu.

“Bagi pejuang veteran yang belum terdata segeralah mendaftarkan diri,” pintanya.(yog/mg2)