PSIM Jogja Perlu Dukungan Besar Hadapi PSCS
JOGJA – Tidak adanya dukungan suporter pada pertandingan PSIM melawan Persiraja Banda Aceh pekan lalu (5/11), dinilai sangat mempengaruhi mental pemain. Jika pada biasanya di Stadion Sultan Agung ribuan pendukung PSIM selalu menyemangati, saat menjamu lawannya di Stadion Gemilang, Magelang, pertandingan digelar tanpa penonton. “Sangat mempengaruhi daya juang pemain. Perbedaanya luar biasa saat hilang dukungan, karena kebiasaan ada suporter,” kata pelatih PSIM Jogja Erwan Hendarwanto kemarin (9/11).

Menurutnya, pemain merasa sendirian ketika tidak ada dukungan dari suporter baik Brajamusti dan The Maident. Semangat bertanding dan motivasi permain menjadi drop. Di atas lapangan pun mereka terlihat bingung dan tidak bisa mengembangkan permainan. “Peak atau puncaknya sebenarnya setelah lawan PSCS. Semangat, mentalitas dan kepercayaan diri sedang bagus-bagusnya. Tapi setelah batal lawan Perssu momennya hilang dan antiklimaks. Sekarang kembali menaikkan moral mereka,” imbuhnya.

Setelah mempecundangi PSCS dan memimpin klasemen, Erwan mengungkapkan, pemain merasa saat itu delapan besar sudah di depan mata. Karena lawan Perssu dan Persiraja di kandang, kans meraup poin penuh terbuka lebar.

“Kami memberikan motivasi dan menekankan pada pemain bahwa apa yang kami lakukan sampai sejauh ini tidak sia-sia. Mereka bermain tidak untuk sehari dua hari, tapi masih panjang. Tidak ada yang tahu besok lawan Cilacap akan seperti apa dan tidak ada yang tidak mungkin,” ungkapnya.

Erwan berujar, kekompakan dan kekeluargaan di dalam tim yang membawa langkah PSIM bisa sampai sejauh ini di 16 besar. “Mulai kami perbaiki feeling bola yang sempat hilang. Defensif lebih rapi. Kesalahan dan kecerobohan kami perbaiki,” bebernya.

Menghadapi PSCS Cilacap pekan depan, kedua tim akan bermain Sabtu malam (12/11). Selain mencoba memantapkan skema serangan open play, tim juga mengupayakan mencetak gol dari bola mati.

“Kami siapkan Sunni, Gilang, Rifky, Topas dan Juni. Baik penalti dan tendangan bebas mereka harus berani belajar. Membangkitkan kepercayaan diri memang termasuk PR besar. Teknis setiap latihan kami latih. Tapi kadang di lapangan bisa berbeda,” tandasnya. (riz/din/mg1)