SLEMAN – Kekerasan (bullying) di kalangan pelajar kembali terjadi. Yang memprihatinkan, pelaku dan korban merupakan siswa yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Peristiwa bullying itu terjadi di salah satu SD di Mlati, Sleman.

Korban, JAT, 8, siswa kelas II harus dirawat secara intensif di rumah sakit akibat perilaku kekerasan yang dilakukan oleh teman satu sekolahnya. Tindakan kekerasan yang diarahkan kepadanya menyebabkan pembuluh darah di bagian kemaluan korban pecah dan harus dioperasi. Atas kekerasan itu pula, kini korban mengalami trauma.

Ayah korban, Ulu Alan Surengga, 32, menuturkan, penganiayaan terhadap anaknya dilakukan lebih dari sekali. Pelaku merupakan teman sekelas dan kakak kelas. Dia menceritakan, penganiayaan pertama terjadi pada pertengahan Oktober, Kami (20/10) lalu. Perut dan kemaluan korban ketika itu ditendang oleh dua siswa kelas IV hingga membuat anaknya menangis kesakitan. Sehari kemudian, dia melaporkan peristiwa tersebut ke sekolah.

“Pihak sekolah mendatangi rumah kami, namun orang tua dari siswa yang melakukan (tindak kekerasan) tidak datang,” jelas Alan, sapaannya, ditemui di Kantor Jogja Police Watch (JPW) di Jenggotan, Jetis, Jogja, kemarin (9/11).

Berselang lebih dari seminggu, aksi kekerasan kembali menimpa anaknya. Kali ini dilakukan oleh teman sekelas pada akhir bulan kemarin (31/10).

“Akibat kejadian kedua, luka pertama di kemaluan korban semakin parah, pembuluh darahnya pecah dan saluran kencingnya tertutup,” jelasnya.

Atas kekerasan yang dilakukan oleh teman-temannya ini membuat JAT harus dilarikan ke RS Panti Rapih untuk menjalani operasi. Pihak keluarga menuntut sekolah untuk menanggung biaya operasi korban. “Biaya operasi ditanggung sekolah,” jelasnya.

Kejadian tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Mlati kemarin (9/11). Hal itu ditempuh, lanjut Alan, karena penganiayaan tetap terulang, meski sudah dilakukan mediasi pertama. Menurut dia, langkah ini merupakan sikap orang tua untuk membela hak dan keadilan anak. Sebab, selain luka secara fisik, JAT juga menderita secara psikologis.

“Ini sebagai pembelajaran bagi orang tua agar menjaga anak mereka. Termasuk sekolah juga harus melakukan pengawasan,” jelasnya.

Humas JPW Baharudin Kamba menegaskan, pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas.

Kasus ini terkait dengan anak-anak, maka masuk ke dalam undang-undang perlindungan anak. Oleh karena itu, penyelesaian kasus ini seharusnya melibatkan banyak pihak. Sebab, baik korban dan pelaku, harus mendapatkan pendampingan. Serta diberi pemahaman bahwa tindakan yang dilakukan merupakan suatu hal yang tidak benar. “JPW akan mengawal kasus ini hingga tuntas,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Kanit Reskrim Polsek Mlati AKP Haryanta mengaku sudah menerima laporan terhadap aksi kekerasan terhadap JAT. Pihaknya segera melakukan penyelidikan untuk menuntaskan kasus penganiayaan tersebut. “Kami akan kumpulkan keterangan dari korban dan saksi-saksi,” jelasnya. (bhn/ila/ong)