Tinggalkan Prostitusi, Masih Sering Dapat Pandangan Miring

Mbok Temu merupakan contoh nyata berhasilnya pengentasan mantan mucikari di wilayah Mrican, Jogja. Selepas dari menawarkan pekerja seks komersial (PSK) kepada pria hidung belang, dia kini memilih berjualan angkringan di selatan terminal Giwangan.

HERU PRATOMO, Jogja

INSAF. Kata itu yang keluar dari perempuan paro baya bernama Temu Asih itu. “Saya niat sudah insaf, sudah tua. Ada anak cucu lagi,” ujar Mbok Temu saat ditemui di usaha angkringannya awal pekan (7/11) lalu.

Mbok Temu, sapaannya, menceritakan awal dirinya masuk ke dunia prostitusi. Sekitar 36 tahun lalu, saat dia berusia 20 tahun, ibunya mengelola losmen di Sanggrahan, Bantul. Dia sering membantu di losmen itu. Namun, saat lokalisasi Sanggrahan ditutup oleh Pemkot Jogja pada 1997, dia bersama sejumlah PSK tak lagi memiliki tempat. Sejak itu, Mbok Temu akhirnya mengelola beberapa anak buah. Diakuinya, para PSK yang ikut rata-rata sudah berusia di atas 30 tahun. “Yang masih muda-muda lari ke Sarkem (Pasar Kembang),” jelasnya.

BACA: Warga Mrican Butuh Entaskan Mucikari
Tahun demi tahun dia lalui sebagai mucikari. Lama-kelamaan Mbok Temu merasa risih. Dia pun ingin berubah. Niatnya tersebut diikrarkan pada awal puasa lalu. Alasannya, dia sudah tua dan merasa risih pada cucunya yang sudah mulai beranjak dewasa.

“Cucu saya sudah semakin besar, risih kalau masih bergelut di dunia prostitusi,” tandasnya.

Niatnya tersebut kemudian diungkapkan kepada pengurus RT dan RW setempat. Sebab, tak hanya niat insaf saja. Tetapi, persoalan yang membelitnya selama ini juga harus ada solusi. Mbok Temu, sapaannya, mengakui saat menjadi mucikari hidupnya sembarangan. Suka foya-foya, hingga ujungnya pinjam uang ke rentenir.

Akhirnya, Mbok Temu dibantu oleh pengurus RT dan RW melunasi utang. Dia pun memulai usaha secara halal. Dia kini berjualan angkringan.

Diakuinya, pendapatan saat menjadi mucikari dan penjual angkringan berbeda jauh. Mbok Temu menceritakan, selama hampir 36 tahun mengelola losmen di Mrican, dia bisa mendapatkan uang jutaan rupiah per malamnya. Hasil dari sewa kamar dan menjajakan PSK.

“Tapi, pengeluarannya juga bisa mencapai dua kali lipat. Kan kebutuhan anak buah juga banyak, dapatnya Rp100 ribu, pengeluaranya bisa sampai Rp 200 ribu,” jelasnya.

BACA: Warga Perempuan Takut Keluar Malam
Dengan berjualan angkringan, diakuinya, pendapatannya tidak pasti. Saat ramai, per malam penghasilan kotor mencapai Rp 170 ribu. “Awalnya dikasih modal usaha roti kering ketika memasuki Lebaran. Dari situ, ada tambahan uang dan sekarang membuka angkringan,” lanjutnya.

Perempuan 56 tahun itu mengatakan, meski sudah berubah, masih saja ada anggapan miring terhadapnya. Empat mucikari yang saat ini masih beroperasi, menurut dia, seolah mendiamkan dirinya. “Ngenengke, tidak pernah menyapanya,” ungkapnya.

Selain itu, juga masih ada pria hidung belang yang datang ke angkringannya untuk mencari PSK. Jika ada hal seperti itu, Mbok Temu mengaku hanya mengarahkan mereka untuk mencari sendiri. “Cari sendiri tinggal nyebrang Ringroad,” ungkapnya.

Mbok Temu yang pernah menjadi Wakil Ketua Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogya (P3SY) itu mengaku hati nuraninya masih sering menangis jika melihat ada PSK atau gelandangan yang sakit atau hamil. Sebisa mungkin, dia akan mengusahakan meminta bantuan ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Hal berbeda jika ada PSK yang terkena garukan.

“Kalau kena garukan saya tidak peduli, tapi kalau ada yang sakit atau hamil, sebisa mungkin ditolong. Pak Sultan (Gubernur DIJ) kan juga bilang yang penting ditolong dulu,” ujarnya.

Saat ini, Mbok Temu juga mulai mengarahkan para PSK yang ingin mengikuti jejaknya ke pelatihan. “Dinas sosial kan sering mengadakan pelatihan, kalau ada yang niat (insaf) saya arahkan ke sana,” lanjutnya. (ila/ong)