Efektivitas Pemesanan Tiket Menuju Persepakbolaan Modern
Suporter PSS Sleman dikenal aktif memberikan masukan kepada tim. Hal itu dilakukan semata-mata untuk kebaikan dan kemajuan tim. Termasuk mengenai isu masalah tiket. Apa masukan-masukan itu ?
RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
Salah satu suporter PSS Muamar Nur Kholid mengatakan, banyak dari fans PSS Sleman yang menginginkan agar manajemen dapat menjual tiket secara online atau bisa disebut sebagai Electronic Ticket (E-Ticket). Secara ringkasnya, E-Ticket ini seperti masyarakat yang akan memesan tiket pesawat atau kereta api secara online. Pembayaran juga lebih ringkas dengan transfer melalui bank.

“Setelah pembayaran mungkin nanti penonton akan mendapat barcode melalui ponsel, yang bisa di-scan saat masuk stadion. Infrastruktur dan biayanya mungkin besar, tapi selanjutnya keuntungan yang akan didapat juga banyak,” terangnya seperti dikutip dari laman resmi klub, Selasa (8/11).

Beberapa manfaat konsep E-Ticket dengan teknologi informasi menurutnya antara lain bisa menghematan biaya dan waktu. Sebab selama ini yang terjadi menurutnya, penonton tribun selatan perlu perjalanan dua kali saat membeli tiket antre di pagi hari dan perjalanan saat berangkat sore hari saat menonton pertandingan. “Kalau dekat tidak masalah, kalau jauh kan boros waktu dan biaya perjalanan.

Tapi kalau dengan E-Tiket mereka bisa pesan dari rumah dengan ponsel atau komputer,” ungkapnya.

Selain itu juga meminimalisasi antrean panjang yang memicu keributan. Antrean menurutnya masih mungkin ada, namun itu terjadi di dunia maya saat akan pemesanan.

Manfaat lain dengan penjualan tiket berbasis elektronik, manajemen dapat mendapatkan statistik data penonton. Yaitu ketika penonton memesan tiket, manajemen dapat meminta penonton mengisi biodata penonton, mulai dari nama, alamat, tanggal lahir, jenis kelamin dan seterusnya. Dengan pengisian biodata tersebut maka manajemen dapat mengetahui data-data seperti, berapa rata-rata umur penonton, sebaran domisili, perbandingan antara laki-laki dan perempuan dan lain-lain.

Data seperti itu akan sangat bermanfaat bagi manajemen misalnya untuk kepentingan pemasaran jersey tim. Sebab jika diketahui penonton laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 3:1 maka manajemen dapat memproduksi jersey dengan perbandingan yang sama. “Selain itu, dengan tiket elektronik akan lebih menghemat kertas dan menekan adanya tiket palsu,” paparnya.

Kemudian yang tak kalah pentingnya, dengan transaksi elektronik akan mencegah kecurangan dan kebocoran penerimaan manajemen dari uang penjualan tiket penonton. Sebab pembayaran dilakukan melalui transfer maka uang akan langsung masuk ke rekening klub.

Namun, untuk mempersiapkan hal tersebut tentu tidak mudah. Perlu ada percobaan dan persiapan secara infrastruktur. Termasuk edukasi kepada penonton baik yang remaja maupun penonton usia lanjut.

Meskipun jika ingin lebih mudah, manajemen bisa bekerjasama dengan vendor penyedia jasa tiket elektronik yang biasa menggelar konser-konser musik. Hal tersebut yang sudah mulai dilakukan oleh klub Pusamania Borneo FC.

Jika memang nantinya akan mengarah ke tiket elektronik, manajemen juga perlu bekerjasama dengan pihak bank. Sebab dengan sistem elektronik maka perlu tersambung dengan sistem yang dimiliki bank.

“Konsep seperti itu bukan hal yang mustahil dilakukan oleh manajemen,” tandasnya. (din/mg1)