MAGELANG – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Jogjakarta kehilangan potensi pendapatan dari persewaan aset berupa tanah sekitar Rp 600 juta-Rp 800 juta per tahun. Ini karena warga yang menyewa aset tanah PT KAI tidak membayar.

“Potensi kehilangan pendapatan ini berlangsung sejak 2013. Dari tahun ke tahun angkanya semakin membesar,” ungkap Manajer Humas Daop 6 PT KAI Jogjakarta Eko Budiyanto saat berkunjung ke Magelang, kemarin (8/11).

Dikatakan, pihak yang menyewa tanah PT KAI terdapat 900 ikatan kontrak. Jumlah itu tercatat sejak tahun 2010. Namun demikian, dari jumlah itu hanya 500 ikatan kontrak yang sudah melakukan perpanjangan sewa.

Eko mengatakan, jika semua pihak yang terikat kontrak membayar sewa dengan tertib, maka pendapatan PT KAI akan lancar. Total uang sewa yang masuk bisa mencapai Rp 3 miliar per tahun.

PT KAI Daop 6 memiliki aset dengan luasan tanah 15 juta m2. Aset itu tersebar di berbagai daerah seperti Jogjakarta hingga perbatasan Ngawi, Wonogiri, Kutoarjo dan Magelang. Khusus luas aset tanah yang disewakan di Magelang ada 3,5 juta m2. “Dari jumlah itu 80 persennya memiliki ikatan kontrak dengan PT KAI,” urai Eko.

Namun para pihak yang memiliki ikatan kontrak, mulai 2013 lalu tidak lagi tertib membayar uang sewa. Mereka diduga dibohongi sekelompok orang, sehingga tidak membayarkan uang sewa ke PT KAI.

Eko mengungkapkan, kelompok itu menipu agar warga membayar uang sewa di orang yang merupakan bagian kelompoknya. Kelompok ini datang dari berbagai latar belakang, seperti oknum pegawai KAI sendiri dan pihak lain. “Mereka mengambil keuntungan untuk pribadi. Mirisnya, penyewa percaya begitu saja,” katanya.

Manager Pengusahaan Aset Daop 6 PT KAI Jogjakarta Tiyono menjelaskan, tarif sewa tanah PT KAI nilainya bervariasi. Seperti untuk luasan 100 m2 untuk sewa tinggal, nilainya di bawah Rp 1 juta per tahun. Sementara untuk sewa tempat usaha lebih mahal lagi.

Aset KAI di wilayah Magelang membentang dari Tempel sampai perbatasan Secang-Temanggung. Kemudian di wilayah Temanggung terbentang dari perbatasan Secang-Temanggung sampai perbatasan Parakan-Ambarawa. Dari semua aset itu, ada yang sudah bersertifikat dan ada yang sedang proses penyertifikatan. (ady/laz/mg2)