Kompol Totok Suwantoro setelah Dicopot sebagai Kapolsek Mantrijeron

Menyanyi seharusnya jadi hal yang menyenangkan. Tapi tidak bagi Kompol Totok Suwantoro, 53. Karena nyanyiannya, dia dicopot sebagai Kapolsek Mantrijeron, Jogja sejak kemarin (8/11). Hal itu menjadi pengalaman pahit sekaligus berharga baginya.
BAHANA, Sleman
PERWIRA menengah (Pamen) dengan melati satu di pundak ini kini di tempatkan di Polda DIJ. Saat ini, bapak tiga anak ini tengah bertugas di bagian personalia, untuk selanjutnya menunggu perintah dari pimpinan Polda DIJ.

“Tugas saya hanya mengabdi. Apapun yang diperintahkan oleh pimpinan, saya siap menjalankan,” kata warga Sanggrahan, Prambanan, Klaten ini kepada Radar Jogja, kemarin (8/11).

Baca: Nyanyian Kapolsek Mantrijeron Berbuntut Pencopotan
Totok menuturkan, nyanyiannya dalam salah satu kampanye pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota itu dilakukan secara spontan. Dia tidak bermaksud untuk mendukung salah satu paslon dalam gubahan lirik lagu berjudul Balen yang dinyanyikannya.

“Bila hal itu dianggap bersalah, secara pribadi dan keluarga saya meminta maaf kepada pimpinan, dinas tempat saya mengabdi, dan masyarakat. Saya juga minta maaf pada kedua paslon karena tidak ada maksud untuk memihak,” jelas Totok.

Dia menjelaskan, kehadirannya dalam kampanye itu sebagai bentuk upaya pengamanan. Namun, ketika itu panitia bersikeras, meminta dirinya naik ke atas panggung untuk bernyanyi.

“Sejak awal saya sudah menolak, tapi berkali-kali dipaksa,” kata pamen yang sudah mengabdi selama 30 tahun lebih di kepolisian ini.

Dia menyebut tidak bermaksud melakukan kampanye apapun dalam nyanyian itu. Pengucapan nama salah satu paslon dalam nyanyian itu terlontar secara spontan tanpa ada unsur kesengajaan.

“Saya bukan jurkam. Peristiwa ini akan saya jadikan pengalaman. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut,” ujar Totok yang menjabat sebagai Kapolsek Mantrijeron selama 1 tahun 10 bulan ini.

Selama berkarir di Polsek Mantrijeron, sebetulnya berbagai terobosan telah dilakukan oleh Totok. Salah satunya digelarnya deklarasi warga. Deklarasi itu digelar bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu. Atas inisiatifnya, digelar upacara deklarasi Sumpah Pemuda di Lapangan Minggiran. Upacara itu melibatkan segenap lapisan masyarakat dan forum pimpinan kecamatan Mantrijeron. “Satu-satunya kapolsek yang membuat deklarasi sumpah pemuda,” jelasnya.

Dalam deklarasi tersebut, para kelompok pemuda dan pelajar mendeklarasikan antitawuran, antiklithih, antivandalisme, serta antinarkoba, minuman keras, dan alkohol. “Alhamdullilah kawasan Mantrijeron aman dan kondusif,” jelasnya.

Situasi kondusif yang terjaga juga tak lepas dari patroli rutin dan giat yang digelar oleh jajarannya kala itu. Patroli digelar saat malam hari hingga azan Subuh berhenti. “Kami itu di kepolisian layaknya anggota P4 (pergi pagi pulang pagi). Dalam 24 jam saya hanya tidur dua sampai tiga jam,” jelasnya.

Dia berharap, sepeninggalannya keamanan wilayah Mantrijeron tetap terjaga. Terlebih dengan hadirnya pejabat baru.

Keberadaan Totok sebagai kapolsek digantikan oleh Kompol Agus Setya Budi yang sebelumnya menjabat sebagai Analis Kebijakan Pertama Bagops Polresta. (ila/mg1)