JOGJA – Penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari dikhawatirkan semakin memudar. Menanggapi itu, Dinas Kebudayaan DIJ mengadakan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) VI pada 8-12 November di Hotel Inna Garuda Malioboro, Jogja.

Tak tanggung-tanggung, pesertanya mencapai 500 orang pemerhati bahasa dan sastra Jawa dari DIJ, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Mengusung tema Bahasa Jawa Triwikrama kongres ini diharapkan mampu membangunkan kekuatan masyarakat untuk mengatasi permasalahan mengecilnya debit bahasa Jawa. Dengan begitu, bahasa Jawa dapat terus lestari.

Dalam kongres yang dibuka kemarin (8/11) semua peserta menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono dalam bahasa Jawa halus menyampaikan, KBJ merupakan sarana memperkenalkan bahasa Jawa sebagai budaya yang adiluhung.

“Bahasa Jawa menjadi salah satu adat istiadat yang berlaku di ranah budaya masyarakat yang kenyataan saat ini semakin terkikis karena pengaruh masuknya budaya asing. Diharapkan bahasa Jawa dilestarikan kembali sebagai bahasa tutur dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, KBJ ini dapat meneguhkan niat dan tekad masyarakat dalam meningkatkan budaya Jawa. “Mari bersama-sama melestarikan bahasa Jawa di tengah kehidupan yang makin modern ini.

Membangkitkan bahasa Jawa harus disertai langkah nyata melalui olah cipta, olah rasa, dan olah karya,” tuturnya.

Dalam KBJ kemarin, HB X juga menjadi pemakalah utama dengan topik Bahasa Jawa sebagai Akar Budaya Jawa. Sedangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof Dr Muhajir Effendy, MAP akan menjadi pemakalah kunci dengan topik Kebijakan Pemerintah dalam Pengoptimalan Peran Kebudayaan Daerah untuk Memperkuat Kebudayaan Nasional yang berlangsung pada hari kedua (9/11).

Terpisah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang hadir dalam acara ini mengatakan, upaya melestarikan bahasa Jawa juga sudah dia lakukan. Salah satunya dengan mengenalkan pada anak-anak sejak dini. “Saat ini beberapa SD dan SMP di Jawa Timur sudah menetapkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal yang wajib mereka ikuti,” tegasnya.

Dalam kesempatan kemarin, peserta kongres dihibur pagelaran wayang yang didalangi oleh Ki Catur “Benyek” Kuncoro dengan Pendadaran Siswa Sokalima. Selama kongres berlangsung juga digelar berbagai lomba dan pentas seni-budaya untuk pelajar dan mahasiswa. (cr1/ila/mg1)