Belajar dari Arema Cronus atau Pusamania Borneo FC

SLEMAN – Sebagai sebuah klub, dibandingkan dengan klub lain di DIJ, PSS Sleman boleh dibilang yang paling siap menuju profesional untuk bermain di kasta tertinggi sepakbola nasional. Laskar Sembada mempunyai bekal tim yang solid, manajemen dengan finansial kuat, serta militansi suporternya yang luar biasa.

Karena faktor terakhir itulah, tak heran setiap laga kandang PSS di stadion Maguwoharjo Internasional Stadium (MIS) selalu disesaki penonton. Meningkatnya jumlah penonton yang datang ke stadion berbanding lurus dengan capaian Busari dkk yang lolos ke 8 besar ISC-B 2016.

Seperti yang terjadi pada pertandingan PSS melawan Kalteng Putra, Minggu (6/11) lalu, panitia pelaksana pertandingan menyebutkan bahwa jumlah tiket yang terjual mencapai 31.800 lembar. Jumlah yang sangat banyak melebihi kapasitas stadion.

Namun antusiasme penonton yang besar tersebut ternyata juga dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Seperti yang terungkap Sabtu (5/11) lalu. Diduga oknum percetakan yang dipercaya mencetak tiket PSS Sleman memperjualbelikan tiket palsu tanpa sepengetahuan pihak manajemen. Bahkan sebelum tiket sampai PT PSS sudah lebih dulu dijual ke masyarakat melalui media sosial.

Melihat kondisi tersebut, mungkin sudah saatnya pihak manajemen PSS melakukan evaluasi mengenai penjualan tiket. Salah satu perwakilan suporter Brigata Curva Sud (BCS) Arul mengatakan, di musim selanjutnya, pihak panpel bisa menerapkan model lain mengenai penjualan tiket masuk. PSS menurutnya bisa meniru model tiket gelang yang diterapkan oleh Arema Cronus, atau model tiket barcode seperti yang dilakukan Pusamania Borneo FC.

Hal itu, bisa mencegah terjadinya kebocoran tiket palsu atau pembelian tiket kepada calo. “Dengan tiket gelang, nanti akan ketahuan di dalam stadion, siapa yang masuk dengan beli tiket atau tidak. Kalau ada yang tidak memakai berarti masuknya tidak beli tiket. Bahan tiket gelang juga sulit dipalsu kalau percetakanya tidak nakal,” ujarnya.

Sedangkan mengenai tiket model barcode memang sedikit perlu pembelajaran. Serta memerlukan waktu untuk menscan tiket pada peralatan portal masuk. Namun hal tersebut sebenarnya sudah jamak dilakukan di klub-klub Eropa. Dengan model barcode, penonton akan berpikir berkali-kali membeli tiket dari calo karena takut tiket tersebut palsu. “Keuntungan dengan model barcode, akan langsung ketahuan jumlah penonton yang masuk dan pendapatan dari tiket. Jumlahnya langsung terinput di komputer,” ungkapnya.

Direktur Operasional PT PSS Rumadi mengatakan, masukan dari suporter akan ditampung oleh manajemen dan menjadi pembahasan untuk musim kompetisi tahun depan. “Nanti tahun depan akan kami coba evaluasi. Kalau perbaikan menuju yang lebih baik mengapa tidak. Usulan dari suporter akan kami perhatikan,” katanya.

Manajemen Akan Laporkan ke Polisi

Temuan tiket palsu jelang pertandingan PSS Sleman melawan Kalteng Putra menjadi perhatian serius pihak manajemen. Rencananya manajemen PT PSS akan membawa masalah tersebut ke pihak berwajib.

Sebab, dengan beredarnya tiket palsu tersebut jelas merugikan manajemen PSS dan juga masyarakat pendukung Laskar Sembada. “Intinya kami rencananya akan melaporkan ke polisi untuk proses hukum. Karena sudah ada yang dirugikan. Yaitu merugikan masyarakat dan PSS,” katanya kemarin (8/11).

Diduga beredarnya tiket palsu tersebut berasal dari oknum percetakan tempat PSS biasa memasrahkan pencetakan tiket pertandingan. Tidak hanya sekali, dari pengakuan salah satu penjualnya bisa lebih dari dua kali yaitu sejak pertandingan PSS melawan Persita dan melawan Kalteng Putra lalu.

Namun, hingga kemarin pihak percetakan belum beritikad baik menjelaskan kepada pihak manajemen PSS. “Belum datang menemui manajemen. Kami tidak mau lewat telpon tapi harus ketemu. Sampai saat ini (kemarin) belum menghubungi,” tambahnya.

Terbongkarnya kasus tiket palsu tersebut berawal dari temuan suporter yang mengetahui adanya oknum yang menjual tiket PSS H-2 pertandingan atau Jumat (4/11) malam. Padahal, manajemen baru menerima dari percetakan pada Sabtu (5/11) siang dan akan dijual pada Minggu (6/11) pagi pada hari pertandingan. “Kami minta teman suporter untuk menelusuri, sampai akhirnya ketahuan penjual dan pemasoknya. Ternyata masih ada hubungan dengan bagian percetakan,” jelasnya. (riz/din/mg1)