Diduga Bocor sejak Percetakan, Dijual via Medsos ke Pelajar

Tiket asli dengan proporsi Dispenda yang lebih lebar. Sementara tiket palsu proporsi kasar dan lubang lebih kecil.

SLEMAN – Antusiasme yang sangat besar penonton PSS Sleman dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab. Terbukti, tiket pertandingan kandang PSS Sleman diduga dipalsukan. Pemalsuan ini diduga sejak dari percetakan dan dijual ke masyarakat.

Direktur Operasional PSS Rumadi mengatakan, indikasi kebocoran itu diketahui sejak Sabtu siang (5/11) sekitar pukul 11.00. Ia mendapat pemberitahuan dari salah satu suporter yang menanyakan kebenaran telah beredarnya tiket pertandingan PSS melawan Kalteng Putra. “Ternyata sudah ada yang menjual di Sleman utara. Ada bukti fotonya dan ternyata ada tiket beredar sebelum sampai ke manajemen,” katanya kepada wartawan, Senin (7/11).

Padahal, menurut Rumadi, tiket baru dikirim dari percetakan Sabtu siang. Untuk pertandingan melawan Kalteng Putra, manajemen mencetak 30 ribu tiket dan tiket cadangan seribu lembar. “Kemudian yang mengantar tiket saya suruh buka sendiri. Ternyata sama dengan yang beredar dan dikirim percetakan,”jelasnya.

Rumadi mengatakan bahwa tiket beredar sebelum sampai ke panpel. Pihaknya lalu melacak dari mana sumber tiket dan dijual di mana saja.

Koordinator tiket suporter PSS Brigata Curva Sud (BCS) M. Zulfikar mengatakan, sejak Jumat malam sampai Sabtu siang dia telah melihat di medsos mengenai beredarnya tiket PSS yang telah diporporasi dari pemda. Sementara tiket yang asli belum diporporasi. “Memang tidak serapi yang dari pemda.

Bahan kertas lebih tipis, dan capnya kurang rapi,” katanya, di kantor PSS, Senin (7/11)

Fikar lalu beli tiket tersebut di Jakal, Ngemplak. Saat itu dia mengetahui penjualnya membawa sekitar 30 tiket. Yaitu untuk tribun merah, kuning, dan biru. Ia lalu mendesak ke penjualnya untuk mengantarkan ke bagian atasnya. “Mengaku namanya Mba Pepi. KTP Kemiri, Purwobinagnun. Kami ketemu di Jalan Palagan, Sleman. Dia di atasnya pengecer,” imbuhnya.

Setelah ditanyai lebih dalam, yang bersangkutan mengaku mendapat tiket dari teman suaminya yang bekerja di percetakan. Kami minta diantarkan lagi ke yang bekerja di percetakan dan bertemu di Jalan Kabupaten. “Suaminya mengaku sudah dua kali tiket PSS disubkan di percetakan tersebut. Yaitu saat lawan Persita dan Kalteng Putra. Sudah beredar di daerah Cangkringan, Seyegan, Ngagklik dan Gembiraloka. Pasarnya anak sekolah dan ditawarkan via BBM harganya sama,” ungkapnya.

Rumadi mengatakan, dengan kejadian tersebut manajemen PSS dan masyarakat tentu saja sangat dirugikan. Karena itu pihaknya menuntut ke percetakan untuk menjelaskan dan bertanggungjawab. Namun ditunggu sejak Minggu hingga Senin siang pihak percetakan tidak ada itikad baik untuk datang. “Katanya pimpinannya ke Jakarta. Kami sudah curiga ketika lawan Persita ada yang melapor calo bisa menjual bonggolan tiket. Ada yang mikir itu dari panpel, ternyata tidak. Karena panpel ada daftarnya,” paparnya.

Manajemen menyebut, tidak menutup kemungkinan akan membawa masalah tersebut ke pihak kepolisian. Sebab PSS telah mengalami kerugian material dan immaterial. Namun sementara pihaknya akan menunggu konfirmasi dan pertanggungjawaban dari percetakan. “Akan kami koordinasikan ke internal dulu untuk pelaporannya,” imbuhnya.

Rumadi mengatakan, percetakan yang dipasrahi mencetak tiket PSS sudah diorder sejak 2013. Biasanya, dari manajemen memberikan order jumlah, tiket dan desain dibuat oleh percetakan. Seperti saat melawan Kalteng Putra, panpel mencetak 30 ribu tiket dengan cadangan 1000. Dari jumlah tersebut hanya sisa tiket bagian tribun biru sejumlah 443 lembar. “Begitu ketahuan ada tiket palsu, Sabtu (5/11) langsung kami perintahkan cetak baru. Karena riskan sebab sudah beredar,” jelasnya.

Untuk pertandingan saat melawan Kalteng Putra, tiket yang terjual sebanyak 31.800 lembar dengan pendapatan kotor Rp 821 juta. (riz/din/mg1)