Dampak Ketidakjelasan Administrasi Kawasan Perbatasan

JOGJA – Persoalan batas administrasi Kota Jogja dan Sleman belum sepenuhnya selesai. Buntutnya, masyarakat di kawasan perbatasan yang menjadi korban.

Seperti persoalan longsornya tanah Makam Petinggen yang terletak di perbatasan Kampung Petinggen, Karangwaru, Tegalrejo dan Padukuhan Blunyahgede, Sinduadi, Mlati.

Akibat masalah administratif, dampak longsor yang terjadi Jumat (4/11) hingga kini belum terselesaikan.

Padahal, di bawah makam terdapat enam rumah warga yang dihuni 6 kepala keluarga (KK) dengan 19 jiwa. Mereka terancam terkena longsor susulan jika hujan deras kembali melanda di kawasan tersebut.

“Satu keluarga sudah mengungsi. Satu keluarga lagi bingung mau pindah kemana karena di situ rumahnya mengontrak,” ungkap Murtado, ketua paguyuban warga petinggen (Pawarti) yang mengelola Makam Petinggen kemarin (7/11).

Dikatakan, akibat bencana empat hari lalu ada delapan makam dan jenazah yang terbawa longsor. Termasuk dua jenazah yang baru sekitar 100 hari dimakamkan. Meski sudah dimakamkan lagi, bau anyir dari jenazah yang terbawa longsor masih tercium. “Kami juga mengkhawatirkan dampak kesehatan warga karena ada jenazah baru,” lanjut Murtado.

Ketua RW 08 Petinggen itu mengaku, sepengetahuannya, sejak dulu Makam Petinggen masuk wilayah Kota Jogja. Sekitar 90 persen jenazah yang dimakamkan di sana juga merupakan warga Kota Jogja. Sebagai warga yang ber-KTP Kota Jogja, persoalan itu sudah disampaikan ke Kelurahan Karangwaru. Tappi, dia justru diminta aparat kelurahan untuk menghubungi Desa Sinduadi. Murtado merasa komunikasi antara Kota Jogja dan Sleman mentok. “Kami ini seperti dilupakan Kota, tidak diakui Sleman,” ketusnya.

Agar persoalan itu tak berlarut-larut, Murtado mendesak Pemprov DIJ segera yang mengambil alih penanganan. “Kalau HB X (gubernur DIJ), kan tidak melihat warga mana,” tuturnya.

Penanganan segera dirasa mendesak. Penanganan longsor secara darurat melalui swadaya masyarakat dan relawan belum bisa menjamin keselamatan warga setempat.

Reruntuhan tembok dan tanah yang longsor sepanjang 15 meter dengan tinggi empat meter juga belum sepenuhnya dibersihkan. “Tanah masih labil. Percuma jika tidak dipasang talud dan bronjong,” ungkap Murtado.

Surat, salah seorang warga penghuni lahan di bawah Makam Petinggen, khawatir adanya longsor susulan yang tak bisa diprediksi sebelumnya. Mengingat cuaca ekstrem dengan hujan deras masih kerap terjadi. Selain harus menghidup bau anyir jenazah, perempuan 80 tahun itu dihantuai rasa was-was jika rumahnya tertimbun tanah longsor susulan.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarto mengklaim, penanganan longsor sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja.Tapi, untuk eksekusinya butuh koordinasi lagi karena wilayah tersebut dianggap masuk Sleman.

“Besok pagi (hari ini) bersama Kimpraswil akan kami koordinasikan lagi dengan BBWSO (Balai Besar Wilayah Serayu Opak), karena itu wilayah mereka,” ungkapnya. (pra/yog/mg1)