RADARJOGJA.CO.ID-Tari Dolalak asli Purworejo memang memiliki pakem gerak dan irama. Namun, demi mempertahankan eksistensinya, seniman tari yang tergabung dalam Grup Budi Santoso berusaha mengikuti perkembangan zaman, sekaligus tuntutan pasar. Lagu-lagu Jawa Modern yang sedang tenar belakangan ini mengiringi tampilan dua gadis penari Dolalak di atas panggung. Ditambah sedikit gerakan layaknya breakdance.

Ya, itu hanya selingan. Tampilan mereka tetap didominasi lagu-lagu khas Dolalak Purworejo, seperti Ikan Cucut, Saya Cari, dan Turi Putih. Juga gerak tarinya tetap pada pakem dasar Dolalak.

“Kami sudah keluar dari kandang. Ada kerja sama dengan pihak luar seperti Sanggar Prigel yang sudah berjalan bertahun-tahun. Sebagian besar sekolah juga mendekat. Saat ini kami sedang mengembangkan bakat anak-anak di beberapa sekolah,” kata Jono, pengasuh Dolalak Budi Santoso Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo saat berkolaborasi dengan siswi SMKN 7 Purworejo.

Selain pakem gerak dan irama, beberapa perangkat alat musik yang ada juga dipertahankan. Seperti kendang, jidur (bedug), dan terbang (rebana). Namun, sebagaimana kebutuhan pasar, irama pengiring tarian ditambah alat musik drum dan organ. Hasilnya, sajian musik lebih mengena dan enak didengar.

“Melihat kondisi saat ini, kami tidak bisa kaku. Harus ada penambahan instrumen agar bisa menjadi bagian perkembangan zaman,” tutur Jono.

Pementasan disuaikan dengan order yang masuk. Jika dulu Dolalak dipentaskan selama berjam-jam sejak sore hingga dini hari. Kini hal itu dipersingkat. Aneka gerak dan lagi bisa diringkas dan dikemas menarik.

“Ada garapan khusus untuk pertunjukan pendek. Tampilan yang ada kami coba tuangkan disitu, sehingga penikmat bisa merasakan dan tidak merasa ada sesuatu yang hilang,” tambahnya.

Sebagai kekhasan Purworejo, hingga saat ini, iringan musik dan suara pengrawit grup Dolalak Budi Santoso selalu mewarnai pementasan-pementasan yang melibatkan sekolah. Pemilihan grup sendiri dikarenakan alasan keaslian gerak yang dipegang.

“Seperti apa majunya zaman. Kami akan terus berusaha bertahan. Regenerasi dan tetap memiliki penari pria seperti awal keberadaannya dulu. Berbagai lapisan usia juga disentuh, agar tidak ada generasi yang terputus,” tandas harap Jono. (udi/dem)