MUNGKID – Gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) disinyalir kembali muncul di Indonesia. Bahkan wilayah Kabupaten Magelang dikabarkan pernah menjadi lokasi Kongres X PKI. Kini PKI sudah memiliki kepengurusan dari daerah hingga pusat.

Mayjend (Purn) TNI Kivlan Zen mengatakan, dugaan adanya gerakan PKI setelah adanya beberapa atribut PKI. Atribut ini muncul dalam beberapa waktu terakhir di beberapa daerah di Indonesia.

“Munculnya atribut ini tanda PKI masih ada. Selain itu, juga ada rapat Kongres X di Grabag,” katanya saat menjadi narasumber Sarasehan Peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan DHC 45 Kabupaten Magelang bekerja sama dengan Kesbangpol Kabupaten Magelang di Ruang Bina Karya kemarin (7/11).

Menurut Kivlan, Kongres X PKI dilangsungkan di Grabag pada 2010 silam. Saat ini PKI sudah memiliki kepengurusan dari daerah hingga pusat. Bahkan ia menyebut keder PKI diduga sudah masuk ke pemerintahan di Indonesia.

“Mereka masuk ke pemerintah dan menyuarakan untuk mencabut Tap MPR,” jelasnya. Tap MPR yang dimaksud merupakan Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI.

Di Tap MPR itu tercantum soal pembubaran PKI dan melarang komunisme. Selain itu juga larangan terhadap penyebaran ajaran-ajaran komunisme, Leninisme, dan Marxisme.

“Fakta kemunculan PKI itu jelas. Simbol bermunculan di Facebook, Youtube. Bahkan mereka juga sampai ke Mahkamah Internasional meminta pemerintah minta maaf dan merehabilitasi korban. Bangkitnya PKI ada di mana-mana,” ungkapnya.

Kepala Kantor Kesbangpol Kabupaten Magelang Karya Humanita mengtakan, dalam UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah terdapat beberapa urusan. Di antaranya terkait unsur urusan absolut, pemerintahan umum, dan lainnya.

“Sarasehan ini merupakan program kemitraan Kesbangpol dengan masyarakat menyangkut unsur pemerintahan umum,” katanya.

Acara dihadiri berbagai kader dari organisasi masyarakat. Selain ormas, juga tampak para siswa dari beberapa sekolah. Salah seorang peserta sempat menampilkan aksi treatikal pembacaan puisi Derap Juang Rakyat Magelang oleh Bambang Eka Prasetya. (ady/laz/mg2)