BANDUNG- Pekan Paralympic Nasional (Peparnas ) XV- 2016 di Bandung, Jawa Barat telah berakhir dua pekan lalu.Selama sembilan hari penyelenggaraan Peparnas XV telah tercipta 104 pemecahan rekor. Rekor-rekor itu tercipta dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Ketua PB Peparnas XV-2016 Ahmad Heryawan (Aher) menjelaskan, selain terciptanya rekor-rekor baru itu, panitia penyelenggara Peparnas XV juga memenuhi empat sukses. Yakni, sukses penyelenggaraan, sukses administrasi, sukses prestasi, dan sukses ekonomi.

Ada satu lagi sukses, yakni sukses edukasi. “Sukses edukasi ini adalah, sukses memberikan kesadaran kolektif terhadap masyarakat untuk memberikan ruang yang sama terhadap aksesibilitas,” tegas Aher.

RAMAH : Dua mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung membantu memberikan petunjuk lokasi pertandingan cabor tenis meja kepada anggota kontingen NPC Kalimantan Timur dalam Pekan Paralympic Nasional XV- 2016 lalu.(Foto:MIFTAHUDIN/RADAR JOGJA)
RAMAH : Dua mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung membantu memberikan petunjuk lokasi pertandingan cabor tenis meja kepada anggota kontingen NPC Kalimantan Timur dalam Pekan Paralympic Nasional XV- 2016 lalu.(Foto:MIFTAHUDIN/RADAR JOGJA)

Kesadaran itu juga tergambar dari kepedulian semua pihak. Tidak hanya mereka yang tergabung dalam kepanitian, melainkan juga tumbuhnya kesadaran dari masyarakat umum. Itu tergambar dari fasilitas-fasilitas yang disediakan bagi para penyandang disabilitas. Sebut saja bus khusus untuk pengguna kursi roda, fasilitas-fasilitas pendukung di venue-venue serta perhotelan yang memberikan kemudahan bagi para penyandang disabilitas.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya kesetaraan perlakuan terhadap atlet penyandang disabilitas dengan atlet-atlet yang normal. “Saya tegaskan. Pemerintah daerah juga jangan pernah melakukan perbedaan bonus terhadap atlet-atlet yang berprestasi,” kata Khofifah.

Ditegaskan, semua elemen masyarkat wajib memberikan kesempatan yang sama bagi para penyandang disabilitas. Juga tidak boleh ada perbedaan apresiasi terhadap atlet-atlet. “Ini sesuai UU No 8/2016 tentang Disabilitas. Intinya demi memenuhi hak-hak dasar para penyandang disabilitas di Indonesia,” tegasnya.(din/ong)