Fajar Sungging: Bingung Siapa yang Akan Meneruskan Gambarannya

JOGJA – Suasana duka masih menyelimuti keluarga almarhum Hasmi di kediamannya di Kaliwaru Lor RT 09 RW 03, Tegalrejo, Karangwaru, Jogja pagi itu. Tampak seluruh kerabat yang hadir memakai kaus seragam berwarna putih biru bertuliskan Trah Gundala.

Sebelum diberangkatkan ke pemakaman di Imogiri, jenazah Hasmi disembayangkan terlebih dahulu di GKJ Jatimulya,Karangwaru. Hasmi meninggal setelah menjalani operasi pada ususnya di RS Bethesda Jogjakarta. Penyakit komplikasi yang selama ini dia derita juga membuat kondisi Hasmi semakin memburuk di saat-saat terakhir hidupnya.

Ruangan Kapel tempat peti jenazah diletakkan sudah banyak dipenuhi pelayat yang mengikuti ibadat liturgi kebaktian. Di samping peti jenazah, tampak putri-putri Hasmi dan istri yang duduk dengan wajah tertunduk pilu. Tak jarang mereka berdiri untuk menyalami tamu-tamu yang datang dan melontarkan senyum sebagai ucapan terima kasih.

Tepat pada pukul 11.00, ibadah liturgi untuk kebaktian almarhum dimulai. Semua tamu yang seiman mengikuti ibadat tersebut dengan khidmat. Setelah kebaktian selesai, seluruh keluarga dan kerabat Hasmi mengantarkan jenazah keluar ruangan doa untuk dibawa ke pemakaman di Makam Seniman Imogiri di Bantul, Jogjakarta.

Putri-putri Hasmi, Ainun Anggitamukti, 18, dan Bathari Sekar Dewangga, 12, mengaku sudah ikhlas atas kepergian ayahnya. Begitu juga sang istri Mujiyanti yang tetap tegar.

Tak hanya keluarga Hasmi yang hadir untuk mengantarkan kepergian Hasmi, banyak teman-teman seperjuangan Hasmi dan tokoh-tokoh seni yang datang dan mendoakan almarhum. Dengan banyaknya tamu yang hadir, menunjukkan selama hidupnya almarhum Hasmi dikelilingi orang-orang yang sangat mengasihinya.

Banyak teman-teman Hasmi yang juga turut serta mengantar sampai ke pemakaman. Sebut saja Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Kus Indarto, dan kawan-kawan sejawat lainnya.

Butet mengatakan, karya-karya Hasmi patut diacungi jempol. Profesi sebagai komikus yang sudah Hasmi jalani sejak dulu berhasil menorehkan prestasi. Kesan seniman yang cerdas terpancar dari sosok pencipta serial komik Gundala Putera Petir ini.

Banyak dari penggemar Hasmi yang ingin melestarikan karyanya dalam bentuk film, komik, dan short movie.

Salah satu partnernya dalam menyutradarai beberapa teater Triyanto Gentong mengaku sangat kehilangan atas kepergian Hasmi. “Beliau ini seperti mata air dimana tidak semua melihat keberadaannya, namun ketika menemukannya semua kebaikan mata air itu diberikan ke banyak orang,” ujarnya.

Hasmi memang terkenal tidak pelit ilmu, keserdehanaannya dalam menjalani hidup juga tidak asing di kalangan teman-temannya. Triyanto berharap, keteladanan Hasmi tersebut dapat menjadi contoh anak-anak muda saat ini.

Salah satu sahabat dekat almarhum Hasmi, Fajar Sungging mengatakan, dia dan Hasmi sedang melakukan kerja sama dalam penggarapan sebuah komik yang berjudul Bangkitnya Ki Wilawuh. Gambar dalam komik tersebut digarap oleh Hasmi dan penulisan naskah digarap oleh Sungging. “Dari 120 halaman yang akan dibuat baru 20 yang diselesaikan oleh beliau, kelanjutannya saya sendiri masih bingung siapa yang akan meneruskan gambarannya,” ceritanya.

Kurator Kuss Indarto juga menceritakan beberapa kerja sama yang pernah dijalin dengan Hasmi. Kuss mengenal almarhum sejak Hasmi bekerja sebagai kartunis di sebuah media massa. “Karya beliau selalu ditunggu di halaman khusus anak-anak yang terbit setiap hari Minggu,” katanya.

Kelucuan karakter yang khas, satir yang apik, dan narasi yang kuat menjadi nilai lebih karya komik Hasmi.

Semasa hidup, Hasmi juga berpesan pada sutradara ternama Indonesia, Hanung Bramantyo yang akan menggarap film Gundala, untuk segera menyelesaikan sebelum dia meninggal. Namun takdir berkata lain, Hasmi belum sempat menonton hasil garapan Hanung tersebut. (cr1/ila/mg1)