RADARJOGA.CO.ID – Pasca-tertangkapnya oknum PNS oleh satgas anti pungli pada 15 Oktober lalu, besaran Pendapatan asli daerah (PAD) dari tempat pemungutan retribusi (TPR) wisata Pantai Selatan Gunungkidul mengalami kenaikan. Namun, Disbudpar menilai lonjakan tidak fantastis seperti informasi yang beredar.

Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbubpar) Gunungkidul Hari Sukmono mengakui, ada kenaikan pendapatan. Namun, ia menepis soal isu lonjakan pendapatan yang fantastis.

“Memang benar ada peningkatan jumlah setoran. Pasca-OTT lalu, setoran naik menjadi sekitar Rp 100 juta,” ungkap Hari, Minggu (6/11).

Menurut Hari, kenaikan termonitor sejak tiga pekan usai digelar OTT dari kepolisian. Jika sebelumnya setoran ter-update per Senin mencapai angka rata-rata Rp 200 juta. Begitu ada oknum yang tertangkap, sekarang naik menjadi Rp 300 juta.

Ditambahkan Hari, setoran retribusi dari koordinator TPR dilakukan satu minggu sebanyak tiga kali. Sejak kasus dugaan pungli mencuat, pihaknya langsung mengintruksikan pada petugas di lapangan agar berkerja sesuai dengan aturan. “Hasilnya ada peningkatan,” katanya.

Sebelumnya, Polres Gunungkidul menetapkan Dwi Jatmiko (DJ) sebagai tersangka kasus pungli Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Pantai Selatan. Namun, koordinator TPR tersebut belum ditahan, karena pertimbangan kesehatan.

Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Mustijat mengatakan, penetapan DJ sebagai tersangka atas sejumlah alat bukti yang dimiliki petugas. Seorang PNS dari kantor Disbubpar Gunungkidul ini juga menjalani pemeriksaan instensif.

“Alat bukti kita (menetapkan Dwi Jatmiko) sebagai tersangka sudah cukup. Yang bersangkutan terjerat saat satgas anti pungli melakukan operasi tangkap tangan (OTK),” kata Mustijat.

Dalam OTK yang digelar Sabtu 15 Oktober 2016, petugas berhasil mengamankan barang bukti lembaran bendel karcis, uang tunai Rp 9,5 juta dan dokumen milik TPR. Alat bukti tersebut sudah cukup untuk menetapkan Dwi Jatmiko sebagai tersangka.(gun/hes)