RADARJOGJA.CO.ID – Kesehatan sopir di Gunungkidul banyak yang terganggu. Kebanyakan mereka mengalami hipertensi atau darah tinggi. Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh. Terutama bagi para sopir. Jika tidak diantisipasi, ini bisa mengancam keselamatan bersama.

Tidak hanya itu, kondisi tidak sehat itu ternyata tak hanya dialami para sopir. Para kondektur dan kernet juga mengalami hal yang sama.

“Berdasar hasil pemeriksaan, mayoritas sopir angkutan umum menderita darah tinggi atau hipertensi,” ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul dr. Dewi Irawati, Minggu (6/110). Sebelumnya, petugas Dinkes Gunungkidul melakukan pemeriksaan kesehatan kru bus di Terminal Wonosari secara mendadak.

Dewi melanjutkan, pemicu hipertensi faktornya bergam. Salah satunya beban target kejar setoran. Karenanya, ia menyarankan agar persoalan tersebut menjadi perhatian berbagai pihak. Jika dibiarkan justru membahayakan keselamatan penumpang.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap 51 kru angkot, baik sopir, kondektur, dan kernet, sebagian besar menderita hipertensi,” paparnya.

Menurut Dewi, kegiatan pengecekan kesehatan secara gratis dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN). Tujuannya adalah mendukung keselamatan penumpang dan menjaga kesehatan kru angkutan umum.

“Kesehatan sopir cukup penting. Karena membawa angkutan umum yang didalamnya cukup banyak penumpang. Pemeriksaan kesehatan ini juga untuk mendukung keselamatan berlalulintas,” katanya.

Jiyono, salah satu sopir angkutan umum mengakui, beban kerja sopir memang berat. Karena itu pihaknya mengapresiasi adanya pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah. “Kalau bisa pemeriksaan gratis diagendakan secara rutin,” pinta Jiyono.

Menurutnya, selama beraktivitas kondisi kesehatannya kerap terganggu. Tekanan darah sering naik turun. Pihaknya mengaku tidak mau memaksakan diri untuk “narik”. Hingga dipastikan kondisi kesehatan membaik, Jiyono baru mulai tancap gas. “Khan berbahaya kalau nekat kerja, sementara kondisi kesehatan tidak prima,” katanya.(gun/hes)