RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Laga kandang terakhir ISC-B ditutup tim PSS Sleman dengan hasil sangat memuaskan. Meski sempat tertinggal lebih dulu dari rivalnya, Kalteng Putra, Busari dkk mampu membalas gol sebelum turun minum, hingga babak pertama berakhir dengan skor imbang 1-1.

Di babak kedua, tak ada ampun bagi tim tamu. Di hadapan ribuan pendukungnya, anak asuh Seto Nurdiantoro “menggila” di lapangan dan mampu memberondong empat gol tanpa balas. Kemengan besar pun diraih tim kebanggaan wong Sleman itu.

Skor akhir 5-1 untuk tuan rumah. Hasil tersebut membuat Laskar Sembada kokoh di puncak klasemen grup B ISC-B.

BACA JUGA; Lemparan Roll Paper Memakan Korban
Tim Super Elang Jawa (Elja)hanya butuh hasil imbang pada pertandingan berikutnya untuk menjadi juara grup dan lolos 8 besar. Dengan catatan, PSS mampu menjaga selisih gol tak lebih dari sebiji dibanding torehan Persita.

Meski mendulang kemenangan besar, Seto Nurdiantoro mengaku beberapa pemainnya tak mengeluarkan permainan terbaik mereka. Itu tampak dari terciptanya gol pertama. Menurutnya, telah lolosnya PSS ke 8 besar menjadi faktor utama kurang seriusnya penampilan beberapa pemain.

PSS kebobolan lebih dulu di menit 12, Paul Yohanes Yukey memanfaatkan bola serangan balik. Sontekannya ke tiang dekat tak mampu diantisipasi Nanda. “Selain kebobolan juga banyak peluang terbuang percuma, seperti sudah berhadapan dengan kiper tapi tidak gol,” katanya setelah pertandingan.

Sejak awal sebenarnya PSS bermain menekan. Laga baru berjalan satu menit Rizki Novriansyah terjebak offside setelah umpan Busari. Sementara Eka Angger beberapa kali overlaping.

Pada menit ke 14 Busari menggedor pertahanan lawan mencari gol penyama, tapi tendangannya berhasil ditepis kiper lawan dan hanya menghasilkan tendangan pojok.

Kerjasama Busari dan Kito Chandra di sisi kanan beberapa kali menghasilkan sepak pojok. Sayang sundulan Kito dan tembakan Tri Handoko jauh dari gawang. Baru pada menit ke 19 PSS mampu menyetarakan kedudukan. Berawal dari umpan Kito Chandra, bola disambar Tri Handoko dan membuat skor 1-1 yang bertahan sampai babak pertama berakhir.

Di babak kedua, Seto menginstruksikan pemainnya untuk keluar menyerang. Tampak empat gelandang dan penyerang selalu naik berbarengan sejak peluit pertama babak kedua ditiup wasit. Kondisi tersebut membuat hampir seluruh pemain Kalteng Putra turun di area kotak 16.

“Babak kedua kami bilang ke pemain kalau ingin menang harus lebih termotivasi dan semangat. Terbukti di babak kedua bisa cetak empat gol. Di samping juga kondisi lawan menurun drastis, kami manfaatkan betul,” kata Seto.

Belum genap dua menit usai turun minum, Busari mengancam gawang Kalteng. Menyisir sisi kiri pertahanan lawan dan tinggal berhadapan dengan penjaga gawang, sayang tembakannya berhasil dihalau. Selanjutnya berawal dari sepak pojok Dave melepas tembakan di dalam kotak, namun bola masih menyamping di sisi gawang.

Menit ke-50 PSS mengancam melalui Dave, Busari, dan Riski. Ketiganya beberapa kali mengurung dan membombardir gawang Dede Pranata. Tuan rumah akhirnya berbalik unggul dua menit berselang. Kito Chandra mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima assist dari Bagas Adhi Nugroho. 2-1 untuk Super Elja.

Gelombang serangan PSS belum surut. Lima menit berselang, setelah lolos dari sisi kanan pertahanan tim tamu, Crah Angger melakukan umpan lambung dengan cantik dan berhasil disundul Riski Novriansyah. Bola sundulanya tak mampu dibendung portiere Kalteng Putra, Dede Pranata. PSS menjauh dengan keunggulan 3-1.

Perubahan skema dari 4-2-3-1 ke 4-4-2 diamond menjadikan permainan lebih menyerang. Umpan jauh Busari berhasil diterima Dave Mustaine, namun tembaknya berhasil ditepis Dede Pranata dan hanya menghasilkan sepak pojok. Menit 65, Dirga Lasut menambah penderitaan tim tamu setelah memanfaatkan bola sepak pojok.

Setelah unggul 4-1 Seto melakukan pergantian, Dicky Prayoga masuk menggantikan Chandra Waskito, Dirga Lasut digantikan Bijahil Chalwa dan Busari keluar dan dimasukkan Chandra Lukmana. Sebelum keluar, Busari sempat menambah gol tuan rumah menerima umpan Dave Mustaine dari sisi kiri di menit 69. Gol kapten PSS tersebut sempat diprotes kubu tim tamu yang dinilai offside namun disahkan asisten wasit.

“Busari dan Dave sempat kram kondisinya tidak sebaik yang kami inginkan. Karena itu nanti peningkatan fisik akan kami tambah. Pemain juga masih menumpuk di belakang, membuat transisi menjadi lambat. Mungkin ketakutan serangan balik,” ujar Seto.

Sementara itu pelatih Kalteng Putra Eko Tamami mengaku kecewa dengan hakim garis. Meskipun permainan Edi Sibung dkk babak pertama cukup bagus dan mampu mengimbangi tuan rumah. “Babak kedua hakim garis luar biasa bermain. Tidak ada sportivitas. Kami kalah sebenarnya biasa, tapi caranya tidak begitu. Offside tiga sampai empat orang. Kami protes tapi dalam tahap wajar,” ungkapnya. (riz/ong)