Ilustrasi/Radar Jogja Online
RADARJOGJA.CO.ID, BANTUL – Sekretaris Dinas Pendidikan Dasar Bantul Daeng Daeda mengingatkan pentingnya pendidikan moral bagi kalangan pelajar. Sebab, masalah degradasi moral pelajar belakangan ini mencapai titik kronis.

Setidaknya, berdasarkan hasil survei nasional Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 remaja menunjukkan, hampir 97 persen pelajar pernah mengakses situs pornografi melalui internet. Dan 93 persen responden mengaku pernah berciuman bibir. Parahnya, 62,7 persen responden pernah berhubungan badan. Bahkan, sebanyak 21 siswi dari 100 pelajar perempuan mengaku telah melakukan aborsi karena kehamilan yang tak diinginkan.

“Problem ini menjadi ‘PR’ serius dan harus menjadi perhatian semua pihak,” kata Daeng di sela peletakan batu pertama pembangunan SDIT Kholid Bin Walid di Dusun Gampingan, Sitimulyo, Piyungan, Minggu (6/11).

Menurut Daeng, kasus degradasi moral ini bukan isapan jempol. Dalam kesempatan itu dia juga menyoroti lunturnya etika siswa di Bumi Projotamansari. Hal ini juga menjadi “PR” serius pemerintah dan masyarakat, khususnya para orang tua. Betapa tidak, ada sebagian siswa yang tidak memiliki sopan-santun kepada gurunya.

“Pernah ada siswa paling berprestasi di Bantul, tetapi perilakunya gak ana tata kramane,” sesal Daeng menceritakan pengalaman pribadinya.

Atas dasar itu, Daeng mewanti-wanti setiap orang tua selektif memilih sekolah untuk anak-anak mereka. Walaupun beban tanggung jawab perkembangan anak didik juga menjadi domain orang tua dan masyarakat. Setidaknya, dengan memilih lembaga pendidikan yang tepat perkembangan anak dapat terpantau dengan baik.

“Untuk mendidik anak pintar gampang. Tinggal carikan les. Tetapi, untuk mendidik moral anak susah karena kursus akhlak kilat tidak ada,” ingatnya.

Karena itu pula, Daeng mengapresiasi pendirian SDIT Kholid Bin Walid. Itu dengan harapan banyak pilihan lembaga pendidikan representatif. Meskipun di sisi lain tidak sedikit SD negeri di kabupaten Bantul diregrouping karena kekurangan siswa. “Saya pesan agar segera diurus perizinannya,” pintanya.

Ketua Pembangunan SDIT Kholid Bin Walid Mutahid mengatakan, pembangunan SDIT menelan anggaran sekitar Rp 2,3 miliar. Rencananya, ada enam ruang kelas. Plus beberapa ruang lainnya. “Untuk 2017 kami targetkan dua ruang yang terbangun,” ucapnya.

Menurut Mutahid, SDIT baru ini didesain dengan menonjolkan aspek-aspek keagamaan. (zam/yog/mar)