Kunjungi Rumah Pemilik Kerbau Penginjak Bom Rakitan

Bardi Barto Atmojo, warga Dusun Sawahan, Sumberagung, Jetis, Bantul, kini dapat bernapas lega. Bahkan pemilik kerbau penginjak bom rakitan ini sudah bisa tertawa lepas.

ZAKKI MUBAROK, Radarjogja.co.id – Bantul
Bardi Barto Atmojo tampak begitu tegang kala Bupati Bantul Suharsono bersinggah ke kediamannya di Dusun Sawahan, kemarin (4/11) sore. Bardi yang mengenakan batik warna coklat dipadu celana hitam dan peci itu, tidak begitu banyak bicara. Wajahnya juga masih menyimpan trauma. Dia hanya sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

Dereng ngertos (belum tahu, Red),” jawab Bardi singkat, ketika ditanya apa yang akan dilakukannya setelah salah satu kerbaunya mati terkena paku-paku dari bom rakitan di persawahan saat itu. Apakah membeli kerbau lagi untuk membajak sawah.

Kendati berada di kediamannya sendiri, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh tani ini seolah berada di rumah orang lain. Dia hanya duduk dengan wajah tegang. Sembari mendengarkan Suharsono bercerita tentang situasi terkini soal perkembangan penanganan ledakan bom rakitan yang menewaskan kerbau milik Bardi itu. Tetapi, suasana kaku ini tiba-tiba mencair setelah Suharsono mengeluarkan amplop berwarna coklat.

“Ini untuk jenengan. Biar bisa beli kerbau lagi. Ini uang pribadi saya sendiri,” ucap Suharsono sembari menyerahkan amplop coklat berisi uang Rp 10 juta kepada Bardi.

“Wingi kebone lehe tuku piro,” tanya Suharsono.

“Rp 11 juta, Pak,” sahut salah seorang tetangga Bardi.

Mendengar jawaban itu, Suharsono langsung mengambil uang Rp 1 juta dari dompetnya. Lalu, diserahkan kepada Bardi.

Nek sing iki ora nganggo amplop,” lanjut Suharsono disambut gelak tawa sejumlah tetangga dan tokoh masyarakat Dusun Sawahan.

Dalam kesempatan itu, Suharsono juga berpesan agar masyarakat tetap tenang. Beraktivitas seperti biasa. Toh, penanganan ledakan bom rakitan ditangani intensif kepolisian. Kendati begitu, pria kelahiran Beji, Sumberagung, Jetis, ini juga mewanti-wanti masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Dengan ikut mengawasi aktivitas di sekitar lingkungan mereka. “Sekiranya ada orang asing mencurigakan, langsung laporkan ke polsek,” pintanya.

Usai menerima bantuan ini, Bardi tampak semringah. Ia juga bisa tertawa lepas usai diajak bercanda Suharsono. Kendati begitu, Bardi tetap trauma. Dia tidak akan menggiring kerbau-kerbaunya melewati lokasi ledakan bom rakitan itu. “Sekarang lebih baik muter lewatnya,” tuturnya.

Lalu, uang bantuan Rp 11 juta untuk apa? Bardi berjanji bakal memanfaatkannya untuk membeli kerbau lagi. Rencananya, dalam waktu dekat ia bakal survei ke Muntilan, Magelang. “Mau beli di sana,” ujarnya.

Dengan tambahan satu kerbau lagi, Bardi dapat meneruskan aktivitasnya sebagai buruh tani. Sebab, salah satu kerbau miliknya yang mati karena bom rakitan itu biasanya digunakan untuk membajak sawah. “Nyambut gawene nggih gur niku,” tambahnya.

Baca: Kerbau Korban Bom Akhirnya Mati
Seperti diberitakan, bom rakitan meledak di Dusun Sumber Karangnongko, Bakalan, Sumberagung, Jetis, Selasa (1/11) lalu. Akibat ledakan ini salah satu kerbau milik Bardi tewas. Setelah puluhan paku dan serpihan logam menancap di sebagian tubuhnya. Persisnya di bagian perut dan kaki. Praktis, kerbau Bardi hanya tersisa dua ekor. Betina dan kerbau anakan. (laz/ong)