RADARJOGJA.CO.ID – Belasan ton beras bantuan dari Badan Urusan Logistik (Bulog) berkutu dan bau apek. Padahal, beras tersebut disalurkan untuk rakyat miskin (raskin) di Gunungkidul.

Kasus ini ditemukan di dua desa di Kecamatan Semin Gunungkidul. Yakni, di Desa Pundungsari dan Kemenjing. Warga dua desa tersebut mengeluhkan rusaknya beras raskin yang diterima.

Rinciannya, 223 sak ukuran 15 kilogram ditemukan di di Pundungsari sebanyak 521 sak.

“Jika ditotal, jumlah yang dikembalikan mencapai 11,1 ton. Jatah raskin tersebut diterima pada Rabu 2 November 2016,” ungkap Kepala Bagian Kesra Desa Pundungsari Suhardi, Kamis (3/11).

Suhardi memaparkan, kejanggalan beras tak layak konsumsi sudah terasa sejak pengiriman. Petugas dari Bulog menurunkan tumpukan beras sekitar pukul 05.00 dini hari. Saat itu, jam masuk kerja pemerintah desa belum mulai.

Tak lama berselang, salah satu perangkat dating, namun sebagian beras sudah diturunkan. Pada awal penerimaan memang tidak masalah. Namun saat dilakukan pengecekan, keanehan muncul. Kemasan terlihat kusam dan berdebu.

“Setelah dibuka beras berwarna kehitam-hitaman dan berbau apek. Karena tidak beres kami menginginkan agar beras tersebut dikembalikan dan diganti dengan yang layak,” ujarnya.

Malam harinya, beras tak layak konsumsi itu diganti Bulog dan langsung didistribusikan ke warga.

Suhardi berharap, kasus pendistribusian raskin tidak layak konsumsi ke depan tidak terulang lagi.

“Kami berharap Bulog selaku penyalur raskin melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum disalurkan ke warga,” pintanya.

Kepala Bagian Kesra Setda Gunungkidul Bambang Sukemi mengaku belum mendapatkan laporan soal penerimaan beras kualitas buruk di Kecamatan Semin. Mantan Sekretaris KPU ini berharap pihak desa lebih selektif dalam menerima barang.

“Jika menerima jatah beras dengan kualitas buruk tolak saja, agar diganti dengan yang baik. Sesuai ketentuan, jatah yang diberikan merupakan beras layak konsumsi.(gun/hes)