RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Rentetan kejadian meledaknya bom rakitan di DIJ benar-benar menjadi perhatian Polda DIJ. Tak butuh waktu lama, jajaran kepolisian menangkap pelaku teror yang terjadi di sebuah kafe di Jalan Magelang KM 4,5, Mlati, Sleman pada 26 Oktober silam. Pelaku berinisial Syn, 55, berhasil ditangkap di kediamannya di Muntilan, Jawa Tengah, Rabu dinihari (2/11).

Dari informasi yang dihimpun, Syn merupakan pensiunan tentara berpangkat Pelda di Babinsa Muntilan. Dalam aksinya, pelaku berperan sebagai eksekutor atas perintah seseorang. “Kasus ini masih terus kami kembangkan dan otak pelaku teror sedang kami buru,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes Pol Frans Tjahyono di Mapolda DIJ, kemarin (3/11).

Saat ini, jelasnya, kepolisian tengah memeriksa lima orang saksi yang ada di tempat kejadian perkara (TKP) maupun saksi korban. Tidak menutup kemungkinan saksi tersebut nantinya memiliki keterlibatan dalam aksi teror.

Pengungkapan pelaku aksi teror tidak lepas dari keberhasilan Polda DIJ dibantu Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Semarang dalam mengangkat nomor rangka dan nomor mesin sepeda motor. Padahal, pelaku sudah sedemikian rupa menghilangkan nomor rangka sepeda motor dengan sebuah gerinda dan cat hitam yang kini menjadi barang bukti.

Dari penelusuran polisi, keberadaan sepada motor matic itu sudah dua kali berpindah tangan. Sepeda motor berjenis Yamaha Mio GT itu dibeli pelaku dari seseorang. Setelah seminggu menguasai motor, pelaku menghilangkan nomor rangka kendaraan dan mengganti nomor kendaraan bermotor sehari sebelum menjalankan aksi. Selanjutnya, bagasi motor tersebut diisi dengan tujuh buah botol mineral berukuran 600 mililiter yang diisi bensin. Dari barang bukti lainnya, ditemukan pula potongan busa dan rangkaian remot. “Kumparan itu dihubungkan ke aki. Fungsi remot untuk mengendalikan,” terangnya.

Tersangka kini mendekam di ruang tahanan milik Mapolda DIJ. Pelaku, dijerat tindak pidana terorisme pasal 7 peraturan pemerintah pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang dikuatkan dengan UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Meski terjerat pasal terorisme, sampai saat ini belum ada indikasi tersangka berkaitan dengan kelompok-kelompok terorisme. “Sejauh ini, kepolisian masih melakukan pengembangan terhadap motif teror yang dilakukan oleh tersangka,” jelasnya. (bhn/ila/ong/radarjogja.co.id)