Kegiatan rehab rumah milik Sudiwiyono, 82, warga Dusun Sanden, Murtigading, Sanden, Kamis (3/11). (Foto: Zaki Mubarok/Radar Jogja Online)
RADARJOGJA.CO.ID – Jejak langkah inovasi Kecamatan Sanden patut diadaptasi. Betapa tidak, kecamatan ini memiliki gagasan program pengentasan kemiskinan cukup menarik. Menggandeng potensi seluruh stakeholder dengan menggulirkan program bedah rumah tidak layak huni (RTLH).

Camat Sanden Fatoni menegaskan, optimalisasi seluruh potensi ini tak terlepas dari banyaknya jumlah RTLH di wilayahnya. Setidaknya saat ini terdapat 150-an RLTH di seluruh Sanden. Tersebar di empat kelurahan. “Ada 62 dusun. Hampir di setiap dusun ada RLTH,” jelas Fatoni di sela-sela rehab rumah milik Sudiwiyono, 82, warga Dusun Sanden, Murtigading, Sanden, Kamis (3/11).

Realisasi program ini, Kecamatan Sanden menggandeng Baitul Maal wat Tamwil (BMT) yang tersebar di wilayah Sanden. BMT memberikan uang stimulan sebesar Rp 5 juta. Berbentuk bantuan material bangunan. Bantuan itu menyumbang separo dari kebutuhan total. “Kekurangannya diambilkan dari unit pengelola kegiatan dan pemerintah,” ucapnya.

Keterbatasan anggaran juga dikaver swadaya masyarakat serta anggota TNI dan Polri. Fatoni menyatakan, seluruh tenaga pembangunan rumah bersifat sukarela. “Mudah-mudahan upaya ini memancing lembaga lain berkiprah,” harapnya.

Sekretaris Kecamatan Sanden Rudy Suharta menambahkan, data angka kemiskinan yang dirilis pemerintah berbeda-beda. Kondisi ini mendorong tim koordinasi penanggulangan kemiskinan (TKPK) Kecamatan Sanden bergerak melakukan pendataan sendiri.

Dengan mengerahkan kader di setiap desa untuk terjun ke lapangan melakukan survei. “Datanya ada 150-an RTLH,” sebut Ketua TKPK kecamatan Sanden ini.

Rudy menyadari realisasi bedah rumah RTLH ini tidak dapat tuntas seketika. Melainkan secara bertahap. Tahun ini enam RLTH direhab. Rudy menargetkan, mulai 2017 sedikitnya 10 RLTH direhab setiap tahunnya.

Sudiwiyono apresiatif terhadap bedah rumah miliknya. Mengingat, kondisi rumah bapak empat ini memang tidak layak huni. Meski berkontruksi tembok, usia bangunan ini cukup tua. Itu tampak dari banyaknya batu bata yang sudah lapuk. “Dihuni 5 orang. Saya, istri, dua anak dan adik saya,” tuturnya semringah. (zam/yog/mar)