RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menilai kekerasan terhadap anak di berbagai daerah telah memasuki taraf darurat. Ironisnya, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat korban. Bahkan, saat ini telah terjadi pergeseran tren perilaku kekerasan, dari dilakukan sendiri hingga gerombolan.

Lebih parah lagi, kekerasan anak maupun seksual justru dilakukan oleh anak di bawah umur.

“Berkaca pada kasus (pemerkosaan) Yuyun di Lampung yang dilakukan oleh anak-anak. Mereka itu bergerombol dan bukan perseorangan. Ini menunjukan situasi saat ini darurat. Bahkan terdeteksi di daerah-daerah lainnya,” ujar Arist di kantor Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) DIJ kemarin (3/11).

Maraknya kasus yang melibatkan anak sebagai korban maupun pelaku kekerasan perlu disikapi serius. Khususnya oleh aparat penegak hukum. Untuk itu, Arist mendorong kepolisian di daerah concern pada fenomena ini. Kendati demikian, satu hal yang perlu dipahami oleh penegak hukum bahwa kasus kekerasan anak perlu penanganan berbeda.

Demi meminimalisasi potensi kekerasan anak, Arist menekankan pentingnya mendirikan lembaga perlindungan anak se-kampung di tiap padukuhan. Dengan begitu, setiap gejala kekerasan terhadap anak bisa terawasi secara lebih detail.

“Predator anak justru berasal dari ruang publik dan terdekat korban. Maka untuk menghadang perlu adanya koordinasi di lingkup kecil. Pendampingan sifatnya tidak hanya untuk korban. Namun, pelaku yang masih anak-anak juga wajib didampingi,” paparnya.

Tak kalah penting adanya sistem kekerabatan yang bisa difungsikan untuk mencegah gejala kekerasan anak. Arist menilai, sistem ini menjadi salah satu ciri khas Jogjakarta. Sayangnya, cara berpikir ini justru menipis seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi. Bahkan menghilang dalam kehidupan bermasyarakat.

“Sudah tidak saya temui lagi ciri khas seperti itu di Jogjakarta. Padahal ini bagus dan ideal untuk penanganan kekerasan pada dan oleh anak. Contohnya, rembuk secara kekeluargaan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan,” tutur dia.

Sementara Ketua YLPA DIJ Sari Murti Widyastuti mengungkapkan, angka kekerasan anak di Jogjakarta cukup tinggi. Hingga September 2016 tercatat 84 kasus masuk dalam laporan YLPA. Dari keseluruhan, kekerasan seksual dan fisik masih mendominasi.

“Kesadaran untuk menghilangkan kekerasan ada di tangan orang terdekat anak. Di lain sisi memang predator juga berkeliaran di sekeliling anak. Sehingga perlu penanganan khusus untuk melindungi anak dari beragam kekerasan,” katanya. (dwi/yog/ong)