BOJONG – Sudah tiga bulan lebih, Dewi Melina Putri (20) warga Desa jetaklengkong, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, pergi tanpa diketahui keberadaannya.

Sudah tidak bulan lebih tidak ada kabar. Diduga, perempuan tersebut dibawa kabur dan disembunyikan oleh pacarnya yang baru dikenal lewat media sosial facebook (FB).

Diketahui pihak keluarga, Dewi dibawa oleh kekasihnya yang baru dikenalnya selama dua bulan melalui media sosial Facebook.

Anak kelima dari pasangan Solihin (55) dan Sulastri (53) inisebelumnya kenal dengan WH (26) yang mengaku warga Desa Bebel, Kecamatan Wonokerto.

Namun setelah ditelusuri ternyata WH yang mengaku bekerja di kapal merupakan warga Desa Hariang, Sumedang Jawa Barat yang telah menikah dengan perempuan warga Desa Bebel yang telah ditinggalkan.

“Saya pihak keluarga sudah mencari tahu ke Desa Bebel, ternyata WH telah menikah. Saat ini istrinya tengah mengandung, dan kami tidak bisa menghubungi mereka berdua,” ungkap Rusman yang merupakan ipar Dewi saat ditemui Radar Pekalongan (Jawa Pos Group) di kediamannya, kemarin.

Ia menjelaskan, WH pernah mengajak Dewi ke Dieng, hingga kedua orang tuanya menanyakan keseriusan hubungan WH dengan adiknya itu.

Namun, hal yang tidak diinginkan orang tuanya justru malah terjadi. Dewi pergi dari rumah tanpa kejelasan.

“Kasihan sekali ibu dan bapak Dewi, mereka sering sakit-sakitan karena memikirkan anak perempuannya yang sampai saat ini tidak pernah diketahui dimana. Nomor ponselnya juga tidak dapat dihubungi,” ungkapnya menceritakan.

Rusmin menjelaskan sebulan pertama menghilangnya adik iparnya sudah dilaporkan ke pihak kepolisian sektor Wonopringgo dan telah dikonsultasikan dengan Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Pekalongan.

Namuan hingga saat ini belum ada kabar yang menggembirakan.

Ibu korban, Sulastri berharap agar Dewi bisa kembali berkumpul bersama mereka di Desa jetaklengkong, Kecamatan Wonopringgo.

“Saya selalau menangis setiap hari, hingga sering sakit, kami sangat merindukan Dewi,” kata Sulastri yang tak mampu membendung air di kedua kelopak matanya.

Sementara, Ketua Lembaga Telaah Informasi Masyarakat (Tirai) Mustajirin yang mendampingi Radar menemui orang tua Dewi, kemarin, menjelaskan, kendati usia korban telah beranjak 20 tahun, namun kasus ini layak menjadi perhatian masyarakat dan pihak aparat kepolisian.

Kasus ini harus ditindak tegas agar tidak ada kejadian serupa.

“Jangan sampai ada korban-korban lagi di masyarakat. Adanya media sosial yang memudahkan mencari teman ini, jangan sampai disalahgunakan hingga membahayakan anak-anak kita. Ini menjadi pembelajaran bagi semua masyarakat,” tegasnya. (yan/sam/jpnn/ong)