RADARJOGJA.CO.ID- SLEMAN – Kabupaten Sleman ditunjuk sebagai pilot project penerapan sistem data tunggal pertanian dan integrasi logistik pangan. Penunjukan oleh pemerintah pusat berdasarkan potensi agraria yang sangat melimpah di kabupaten ini. Sistem ini bekerja dengan melibatkan petani secara langsung melalui teknologi digital. Dengan begitu, petani dituntut melek teknologi.

Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Benny Pasaribu mengatakan, sistem ini menjawab akselerasi dinamika agraria yang sangat cepat. Namun, tak diimbangi dengan up date data pertanian, baik di pusat maupun daerah. Dengan sistem ini, Pasaribu berharap sistem ini bisa memberikan laporan terbaru di lapangan.

“Sistem data tunggal menyediakan informasi secara konkret, factual, dan terbaru. Isinya berupa profil petani, meliputi kepemilikan lahan, ternak, masa tanam, dan hasil panen,” jelasnya di Kantor Bupati Sleman kemarin (2/11).

Dikatakan, tidak ter-up date-nya data agrarian selama ini karena dibuat secara manual. Hanya mengandalkan data dari Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Statistik, dan Kementerian Perdagangan. Jika dikomparasikan hasilnya selalu berbeda.

Nah, dalam pilot project ini petani dipasrahi sebuah aplikasi. Aplikasi bisa dioperasikan secara personal maupun lewat badan usaha milik desa (BUMDes).

“Cukup pakai gadget. Hasilnya kami laporkan ke presiden berdasarkan data fakta untuk menentukan arah kebijakan. Jika memang berdampak positif dan tepat, aplikasi akan digunakan secara masal,” jelasnya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menuturkan, progress produk pertanian cukup signifikan sejak 2014. Panen padi tembus 314 ribu ton. Meningkat 4,54 persen di 2015, atau mencapai 328 ribu ton. “Adanya sistem data tunggal tentu sangat bermanfaat bagi dunia pertanian. Supaya data yang dihasilkan lebih akurat,” katanya.

Diakui, pendataan bidang pertanian bukan perkara mudah. Apalagi, untuk menjangkau petani di wilayah pelosok. Belum lagi berbagai persoalan yang muncul dan dialami petani. Misalnya, tentang pengadaan bibit, lahan, hingga pengairan.

Muslimatun menegaskan, pemkab sangat konsen terhadap persoalan pertanian mengingat hampir sebagian besar penduduk Sleman bermatapencaharian sebagai petani. Mencapai 23,56 persen dari jumlah penduduk bekerja atau sebanyak 123.073 orang.(dwi/yog/ong)