RADARJOGJA.CO.ID-Dosen Ilmu Komunikasi UMY Fajar Junaedi menyebutkan, kelompok suporter atau disebut firm di Indonesia bisa dilihat dalam banyak perspektif. Pertama, secara sosiologis, ada perkembangan suporter sepakbola di Indonesia. Yaitu suporter yang berkembang secara kultural dan suporter yang dikembangkan secara organisatoris.

Suporter sepakbola berkembang secara kultur terjadi di Jawa Timur. Seperti Bonek dan Aremania. Mereka dicirikan kelompok yang berkembang dengan kesamaan simbol dan identitas yang dimaknai bersama (shared meaning).

“Bonek misalnya berbagi makna yang sama dengan loyalitas pada Persebaya, visual wong mangap dan kata Bonek,” katanya.

Ia melanjutkan, suporter sepakbola di Indonesia lain, berkembang secara organisatoris. Suporter jenis ini dicirikan pembentukan organisasi tunggal sebagai wadah supporter. Ini terjadi di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Suporter ini dinilai sebagai model ideal karena lebih terorganisir, namun identitas dibentuk oleh elit organisasi.

Suporter jenis ini akan sering terjadi silang pendapat. Hal tersebut kemudian yang menimbulkan benih-benih perpecahan. Suporter yang pendapatnya tidak diterima akan mendirikan kelompok suporter baru atau sub grup dalam kelompok organisasi merasa.

Tidak diakomodasi pendapatnya, ada identitas yang berbeda yang kemudian dianggap sebagai the other (liyan). Sub grup itu kemudian keluar dari kelompok dan membentuk identitas baru. “Ini yang terjadi dengan kelompok suporter di Jogjakarta, seperti ada kelompok ultras di Sleman yang membentuk BCS dan Bantul dengan CNF-nya,” lanjutnya.

Penulis buku Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas dan Media itu mengatakan, dengan perpecahan pendukung tersebut maka keduanya memiliki perbedaan yang jelas secara identitas. BCS melepaskan identitas Slemanianya. Begitu juga CNF yang lepas dari identitas Paserbumi.

“Bandingkan dengan di Jawa Timur yang kultural seperti dengan Bonek dimana firm atau sub grup yang bergaya ultras tetap menyebut diri mereka sebagai Bonek,” ungkapnya.

Di Jawa Timur, jarang terjadi dualisme pendukung suporter dalam sebuah klub. Sebab masih ada identitas yang menyatukan. Hal itu berbeda dengan di Jogjakarta. Sehingga konflik antarsuporter dari satu klub yang sama terjadi lebih intens dan massif meskipun dalam kadar yang berbeda dalam setiap klubnya. (zal/eri)