RADARAJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Polusi udara akibat asap cerobong pabrik aspal yang menggangu kesehatan warga Dusun Pendem, Tegaltirto, Berbah ternyata sudah diketahui Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman Purwanto. Bahkan, mantan staf ahli bupati bidang pembangunan ini telah mendengar masalah tersebut sejak lama. Termasuk upaya mediasi oleh BLH DIJ.

Namun, sebagaimana perangkat desa setempat, Purwanto mengaku tak bisa berbuat banyak mengatasi persoalan itu. Lokasi pabrik yang berada di wilayah Bantul menjadi alasannya. Tepatnya di Tegalyoso, Piyungan. “Upaya yang bisa dilakukan untuk saat ini, ya, sebatas konfirmasi ke Pemkab Bantul atau BLH DIJ. Butuh penanganan lintas sektoral,” katanya kemarin (2/11).

BACA: https://www.radarjogja.co.id/astaga-warga-sesak-nafas-karena-asap-pabrik-aspal-piye-jal/
Kendati demikian, Purwanto berjanji akan menindaklanjuti persoalan tersebut.

Dijelaskan, limbah pabrik aspal sangat berbahaya karena mengandung partikel dan unsur-unsur alam yang bisa merusak kesehatan.

Selain debu, bau menyengat juga mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga.

Purwanto menyayangkan sikap pabrik yang tak memfilter limbah asap hasil pembakaran aspal. Meskipun saat mediasi bersama BLH DIJ pihak pabrik bersedia memperbaiki sarana pembuangan limbah udara itu. Kenyataannya, pihak pabrik tak sepenuhnya mematuhi komitmen yang telah dibuat.

“Selain polusi udara juga menimbulkan kebisingan dari suara pengoperasian mesin. Jarak antara pabrik dan pemukiman tidak ideal karena dekat sekali. Jika memang tidak memiliki amdal sudah pasti menyalahi,” ungkapnya.

Warga Dusun Pendem, Ongko S. Wanto mengungkapkan, debu dan asap pabrik masih mengepul hingga kemarin. Meski tidak setebal hari biasanya, aroma menyengat masih tercium. Dirinya berharap pihak pabrik serius menangani limbah tersebut.

Salah satunya dengan melakukan filter dalam cerobong asap. Dikatakan, di desa tersebut sebenarnya ada dua pabrik aspal hotmix. Salah satu pabrik langsung membenahi sistem pengolahan limbah setelah dikomplain warga. (dwi/yog/ong)